HUBUNGAN BUDAYA DAN AGAMA ISLAM PADA TRADISI APITAN di DESA SERANGAN, KECAMATAN BONANG, KABUPATEN DEMAK
LAPORAN HASIL MINI RISET
HUBUNGAN BUDAYA DAN AGAMA ISLAM
PADA TRADISI APITAN di DESA SERANGAN, KECAMATAN BONANG, KABUPATEN DEMAK
Disusun
untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metodologi Studi Islam
Dosen
Pengampu: Ahmad Muzakkil Anam, M.Pd.I.

Disusun
Oleh:
Faridhatun
Nikmah 163151033
TADRIS
BAHASA INDONESIA
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGRI SURAKARTA
SURAKARTA
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
Pada
dasarnya budaya adalah suatu adat atau kebiasaan masyarakat. Budaya secara
bahasa berasal dari kata “budhhayah“ diartikan
sebagai akal dan budi pekerti, sementara makna dari kebudayaan adalah rasa,
karsa, dan cita yang ada dalam kehidupan masyarakat, budaya ini menjadi cara
pandang suatu kelompok yang terus dikembangkan dan diwariskan kepada generasi
berikutnya agar kebudayaan yang dimiliki desa tidak hilang (Hemawan, 2014).
Tradisi
adalah adat kebiasaan yang dilakukan secara turun temurin yang diwariskan oleh
nenek moyang. Agama Islam adalah suatu agama yang disebarkan oleh walisongo
melalui dakwah. Walisongo menyebarkan jalan dakwahnya melalui wayang. Wayang
adalah alat yang digunakan sebagai jalan untuk menyebarkan agama Islam. Namun, tradisi
dan adat kebiasaan yang ada di masyarakat tidak bisa dihilangkan. (Sosial, 2017).
Dalam
hal ini tradisi yang terdapat di Desa Serangan terdapat adanya tradisi Apitan.
Tradisi Apitan adalah suatu adat kebiasaan yang dilakukan masyarakat setiap
satu tahun sekali yang bertepatan pada bulan Apit atau Dzul Qodha. Tradisi
Apitan juga menyelenggarakan adanya pertunjukan wayang kulit selama satu malam
dimulai dari jam Sembilan pagi sampai jam Empat pagi.
Tujuan
dari tradisi Apitan di Desa Serangan yang pertama untuk mendoakan arwah leluhur
dan nenek moyang. Kedua untuk menyedekahi bumi. Ketiga untuk menghindari bala’ atau cobaan karena di bulan Apit dikatakan sebagai bulan
keramat. Keempat untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama masyarakat.
Kelima, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap rizki yang dan hasil
panen yang dimiliki. Keenam, untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat
karena dengan acara tersebut menjadikan masyarakat lebih saling solid dan
bekerja sama satu sama lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Proses
Pelaksanaan Tradisi Apitan
Masyarakat
Dusun Krajan Desa Serangan, Bonang, Demak masih menjunjung tinggi adanya
tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun.
Masyarakat Desa Serangan adalah masyarakat yang menganut agama Islam, dalam
desa tersebut tidak ada yang menganut agama selain Islam. Oleh karena itu,
mereka masih menjunjung tinggi adanya budaya yang diwariskan nenek moyang.
Salah satu budaya yang terdapat di Desa
Serangan adalah tradisi Apitan. Apitan adalah perpaduan antara Islam dan
Jawa. Tradisi ini sudah ada sejak dahulu.
Apitan
adalah salah satu bentuk tradisi yang terdapat di Desa Serangan, tradisi ini
dilaksanakan pada bulan Apit atau Dzul Qodha. Tradisi ini dilaksanakan setiap
tahun satu kali. Adanya tradisi ini untuk mendoakan arwah leluhur dan juga
sebagai sedekah bumi. Manfaat dari tradisi ini salah satunya untuk mempererat
tali persaudaraan antar sesama dan juga sebagai pelestarian budaya yang ada di
Desa Serangan Bonang Demak.
Tujuan
dari tradisi apitan di Desa Serangan yang pertama untuk mendoakan arwah leluhur
dan nenek moyang. Kedua untuk menyedekahi bumi agar tetap selalu tentram atau gemah ripah loh jinawi. Ketiga untuk menghindari bala’ atau cobaan karena di bulan Apit dikatakan sebagai bulan
keramat. Keempat untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama masyarakat. dan
kelima untuk melestarikan budaya dan tradisi. (Sholeh, wawancara 17 April
2017).
Prosesi pelaksanaan
Tradisi Apitan di Dusun Krajan Desa Serangan diawali dari
1. Pembukaan
dari kepala desa dan aparat jajarannya,
2. Mulai
jam 09.00-Selesai dimulai acara pertunjukan wayang yang diiringi oleh seorang
dalang,
3. Jam
15.00 masyarakat berdatangan ke Balai Desa dengan membawa nasi yang isinya sayuran, telur, dan ayam.
4. Jam
15.30 dimulai acara doa bersama dan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama atau
kyai.
5. Acara
berikutnya adalah menikamati makanan bersama yang dibawa oleh masyarakat.
6. Setelah
itu ada sambutan dari kepala sekolah, dan sebagainya.
7. Jam
19.00 dimulai pertunjukan wayang kembali sampai jam 04.30
8. penutup
Dalam acara apitan memasukkan adanya budaya Islam
yang dibawa oleh Sunan Kalijaga yaitu wayang. Wayang adalah budaya yang
dilestarikan oleh masyarakat Desa Serangan setiap bulan Dzul Qodha berkenaan
dengan adanya tradisi Apitan. Wayang sebagai alat utama sebagai pengiring
tradisi Apitan. Pertunjukkan wayang dilaksanakan di Balai desa dimulai dari jam
09.00 - 04.30, pertunjukkan wayang dilakukan selama satu hari penuh.
Tradisi Apitan adalah tradisi yang ditunggu-tunggu
masyarakat. Karena tradisi Apitan tidak hanya dipertunjukkan seni wayang saja,
melainkan juga ada banyak orang yang berjualan mulai dari makanan, permainan,
asesoris, dan pakaian sehingga masyarakat menunggu acara Apitan, tidak hanya pertujukan
wayang saja,tetapi juga mempererat tali silaturahmi antar masyarakat. Dari
semua ritual Apitan tersebut yang paling dinantikan warga masyarakat adalah
acara tahlilan karena banyak manfaat dari tahlilan tersebut. Menurut Siti
Khalimah dalam tulisanya di sebutkan bahwa tujuan tahlilan adalah :
1. Menyambung
dan mempererat kembali silaturrahmi yang pernah dan telah tersambungkan oleh almarhum
atau almarhumah,
2. Memintakan
maaf atas kesalahan-kesalahan almarhum atau almarhumah terhadap tetangga,
kerabat, dan handai taulan,
3. Mengawali
penyelesaian hak-hak dan kewajiban almarhum terhadap orang-orang yang masih
hidup,
4. Melakukan
amal shalih dan mengajak beramal shalih dengan bersilaturahmi, mengukuhkan
keimanan, membaca surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an, berzikir, dan
bershadaqah,
5. Berdoa
untuk almarhum dari nenek moyang dan leluhur sekaligus membaca doa tahlilan,
agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah.
Persepsi
masyarakat terhadap tradisi Apitan tidak lepas dari hal gaib. “Warga percaya
dengan adanya tradisi Apitan. Tradisi ini harus dilakukan setiap tahun karena
masyarakat percaya bahwa tradisi ini tidak dilakukan maka desa itu akan tidak
tentram. Oleh karena, itu tradisi apitan harus dilaksanakanmasyarakat setiap
tahun sekali yang bertepatan pada bulan Apit atau Dzul Qadha. Menurut (Siti, Wawancara 19 Mei 2018)
mengatakan bahwa tradisi Apitan adalah tradisi yang sakral dan harus
dilaksanakan, jika tidak melaksanakan maka desa Serangan tidak akan tentram
bahkan akan datang musibah. Dapat disimpulkan bahwa tradisi Apitan harus
dilaksanakan setiap tahun sekali yang bertepatan pada bulan Apit untuk menjahui
bencana sehingga desa Serangan akan merasa aman, nyaman, dan tentram.
Dana
yang digunakan masyarakat dalam tradisi Apitan itu uangnya dari masyarakat.
masyarakat membayar uang sebesar lima ribu dan sisanya ditanggung pihak
pemerintah desa sehingga dana dalam pertunjukkan wayang sudah tidak dijadikan
masalah lagi. Masyarakat sudah tinggal menikmati pertunjukan wayang selama satu
hari full.
B.
Bentuk
Ritual Tradisi Apitan
Berdasarkan hasil
penelitian di Desa Serangan ritual yang dilaksanakan dalam ritual tradisi
Apitan antara lain:
1. Penyembelihan
kambing yang dilakukan oleh anggota kelurahan,
2. Bersesaji
yang biasanya dilakukan oleh dalang ketika ruwatan. Banyak sekali perlengkapan
yang digunakan untuk membuat sesaji misalnya saja, kembang telon, mule metri
dan lain-lain,
3. Berdoa
bersama di Balai Desa,
4. Makan
bersama yang dilakukan oleh masyarakat desa Serangan baik orang tua, remaja,
anak, dan dewasa. Semua mengikuti kegiatan Apitan, dan
5. Pertunjukan
Wayang Kulit selama semalaman yang
bertujuan untuk keselamatan masyarakat Kabupaten Demak agar terhindar dari
bahaya dan berdoa agar sawah yang mereka rawat bisa menghasilkan panen yang
melimpah. Biasanya tema wayang kulit tergantung dari permintaan awal, tetapi
kebanyakan menceritakan tentang pertanian.
Menurut
(Artik, 2012) Wayang adalah
sebuah seni pertunjukan khas Indonesia yang sudah sangat populer baik itu di dalam
atau luar pulau Jawa. Karya seni ini sudah dikenal masyarakat sejak zaman pra
sejarah. Kemudian pada saat masuknya pengaruh Hindu dan Budha, cerita dalam
wayang mulai mengadopsi kitab Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India.
Lalu pada masa pengaruh Islam, wayang oleh para wali digunakan sebagai media
dakwah yang tentunya dengan menyisipkan nilai-nilai Islam. Pertunjukkan Mahabharata
dan Ramayana yang berasal dari India. Lalu pada masa pengaruh Islam, wayang
oleh para wali digunakan sebagai media dakwah yang tentunya dengan menyisipkan
nilai-nilai Islam.
Wayangan
merupakan suatu akulturasi budaya yang sejak zaman kewalian (abad 14 oleh para
wali) dijadikan sebagai hiburan dan alat dakwah. Selain itu, juga mampu menyampaikan
pesan etis yang bermanfaat berupa pendidikan moral, keutamaan hidup pribadi dan
masyarakat.
C.
Manfaat
Tradisi Apitan
Masyarakat
secara umum merasa bahwa tradisi Apitan memiliki banyak manfaat. Pertama,
melestarikan budaya yang ada di Desa Serangan Bonang Demak sebagai kegiatan
yang turun temurun ada sejak adanya nenek moyang. Kedua, sebagai sedekah bumi
sebagai rasa syukur masyarakat terhadap rizki yang dimiliki serta melimpahnya
hasil panen yang dimiliki. Ketiga, untuk mempererat tali silaturahmi antar
masyarakat karena dengan acara tersebut menjadikan masyarakat lebih saling
solid dan bekerja sama satu sama lain. Keempat, sebagai sarana hiburan karena
acara Apitan juga menyelenggarakan wayang kulit sebagai pertunjukan untuk
menghibur masyarakat. Kelima, sebagai jalan untuk mendapatkan rizki bagi orang
yang berjualan di acara tersebut. Keenam, untuk mendoakan arwah nenek moyang
yang telah meninggal. Dan ketujuh, untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan
acara doa tahlil bersama.
BAB III
KESIMPULAN
A. Simpulan
Tradisi
Apitan adalah tradisi yang diselenggarakan masyarakat Desa Serangan yang
bertepatan pada bulan Apit. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun setiap
satu tahun sekali. Tradisi yang dibawa oleh nenek moyang yang dilestarikan masyarakat
sampai saat inipun tradisi ini masih tetap ada.
Tujuan
dari tradisi apitan di Desa Serangan yang pertama untuk mendoakan arwah leluhur
pada nenek moyang yang sudah meninggal. Kedua untuk menyedekahi bumi agar tetap
selalu tentram atau gemah ripah loh
jinawi. Ketiga mempererat tali silaturahmi antar sesama, keempat
melestarikan tradisi yang diberikan oleh nenek moyang.
B. Saran
Setelah mempelajari
materi terkait tradisi Apitan di Desa Serangan Bonang Demak. Diharapkan pembaca
lebih mengetahui materi terkait tradisi Apitan sehingga materi ini dapat
dijadikan referensi makalah.
DAFTAR
PUSTAKA
Artik. (2012). Peran Wayang Kulit Dalam Penguatan Kebudayaan
Nasional. Jurnal Ilmiah PPKN IKip Veteran Semarang, (8110012), 1–10.
Hemawan, J. (2014). Pengaruh Agama
Islam Terhadap Kebudayaan Dan Tradisi Jawa Di Kecamatan Singorojo Kabupaten
Kendal. Dimensi, 2(1), 44–57. Retrieved from
/citations?view_op=view_citation&continue=/scholar?hl=en&as_sdt=0,5&scilib=1&scioq=kasta&citilm=1&citation_for_view=quW-A7kAAAAJ:O3NaXMp0MMsC&hl=en&oi=p
Sosial, I. (2017). Persimpangan Antara Agama dan Budaya. Intelektualita,
6(2), 229–242.
Comments
Post a Comment