JURNAL KECENDERUNGAN MASYARAKAT BAHASA DAERAH TERHADAP BAHASA INDONESIA
JURNAL
KECENDERUNGAN MASYARAKAT BAHASA
DAERAH TERHADAP BAHASA INDONESIA
Faridhatunnikmah28@gmail.com
Jurusan
Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
IAIN
Surakarta
Abstrak
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kecenderungan masyarakat desa terhadap
bahasa Indonesia. Kecenderungan bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia sangat
berpengaruh di Desa Serangan Kecamatan Bonang. Penelitian ini merupakan jenis
penelitian kualitatif. Subyek penelitian adalah Bapak Muhamad Sholeh, Ibu Siti,
Ibu Fina yang merupakan seorang warga yang bermukim di Desa Serangan, serta
salah seorang guru yang bernama pak Nur Kholis. Pengumpulan data menggunakan
teknik wawancara, dan observasi. Teknik analisis data menggunakan metode
kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kecenderungan
masyarakat Desa Serangan terhadap bahasa Indonesia. (2) Perubahan
bunyi bahasa daerah terhadap bahasa
Indonesia (3)
Pengaruh bunyi segmental terhadap ujaran. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan dalam pengucapan fonem,
pada fonem /i/ diarelasikan menjad [I]/,
fonem /a/ diarelasikan menjadi [ᴐ], [U], [e], [ǝ], fonem /u/ diarelasikan menjadi [U], [o],
perubahan fonem /e/ diarelasikan menjadi [ɛ], [ǝ], fonem /o/ diarelasikan menjadi
[ᴐ]. Sehingga masyarakat sudah terbiasa dengan dengan bahasa yang digunakan
setiap hari.
Kata
kunci: kecenderungan
bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia, perubahan bunyi, pengaruh bunyi
segmental.
PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman, menurut
(Muslich, 2012) bahasa adalah sistem bunyi ujar manusia
yang sudah disadari oleh para linguis bahasa. Bahasa merupakan tutur kata suatu
manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan. Setiap daerah memiliki ciri khas
bahasa berbeda, tidak semuanya sama. Dalam pemerolehan bahasa di Desa Serangan mayoritas
didapatkan dari bahasa ibu yaitu bahasa utama. Bahasa ibu yang digunakan Desa
Serangan adalah bahasa jawa ngoko.
Bahasa Jawa adalah bahasa utama yang didapat, sehingga digunakan sebagai ujaran
setiap hari. Bahasa erat kaitannya dengan bunyi ujar.
Bahasa (Soeparno, 2002) adalah sebagai alat
komunikasi social. Di dalam masyarakat ada komunikasi atau saling hubungan
antar anggota. Untuk keperluan itu dipergunakan suatu wahana yang dinamakan
bahasa. Dengan demikian masyarakat menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi
sosial.
Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya
melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga
dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama merupakan suatu proses awal yang diperoleh
anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.
Di
Desa Serangan sangat minim menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan
sehari-hari. Masyarakat lebih cenderung menggunakan bahasa Jawa. Oleh karena
itu kecenderungan ujaran bahasa daerah ke bahasa Indonesia mempengaruhi bunyi
ujaran. Karena masyarakat sejak masih kecil sudah diajarkan bahasa jawa bukan
bahasa Indonesia, sehingga ujaran yang sudah diajarkan sudah menjadi terbiasa.
Masyarakat
sering melafalkan fonem /a/ masyarakat
merealisasikan menjadi [ǝ], [e], [ᴐ], [э], [o] misalnya pada kata pusar
[pusǝr], tajam [tajem], apa [ᴐpᴐ], bulat [bulэt], lima [limo]. Pada fonem /i/ direalisasikan
menjadi [I] misalnya pada kata air [aIr], alir [alIr], angin [aղIn], anjing
[anjIղ], bagaimana [bagaImana], baik [baI?], balik [balI?], baring [barIղ],
cacing [cacIղ], daging [dagIղ], gigit [gigIt[, jahit [jahIt], kulit [kulIt],
kuning [kunIղ], langit [laղIt], licin [licIn], bermain [bermaIn], pasir
[pasIr], pikir [pikIr], sempit [sempIt], tipis [tipIs], sedangkan fonem /i/ juga
dapat direalisasikan menjadi [e], [ǝ] misalnya pada kata putih [puteh], tarik
[tarǝ?]. Pada fonem /u/ direalisasikan menjadi [U] misalnya pada kata aku
[akU], bunuh [bunUh], buruk [burU?], burung [burUղ], daun [daUn], duduk
[dudU?], garuk [garU?], gemuk [gǝmU?], gunung [gunUղ], hapus [hapUs], hidung
[hidUղ], lurus [lurUs], lutut [lutUt], mulut [mulUt], perempuan [pǝrǝmpUan], punggung [puղgUղ], rumput
[rumpUt], takut [takUt], tanduk [tandU?], tidur [tidUr], sedangkan fonem /u/ juga dapat direalisasikan
menjadi [o] misalnya pada kata hitung [hitoղ], jantung [jantoղ], jatuh [jatoh],
rambut [rambot], tahun [tahon], telur [telor], tiup [tiop], tumpul [tumpol],
usus [usos]. Pada fonem /e/ dapat direalisasikan menjadi [ǝ] misalnya pada kata
beberapa [bǝbǝrapa], belah [bǝlah], benar
[benǝr], benih [bǝnih], bengkak [bǝղka?], berenang [bǝrǝnaղ], berjalan
[bǝrjalan], beri [bǝri], peras [pǝras], perempuan [pǝrǝmpUan], perut [pǝrut]
sedangkan fonem /e/ juga dapat direalisasikan menjadi [ɛ] misalnya pada kata
bulat [bulэt], ekor [ɛkᴐr], lebar [lɛbar], tetek [tetɛ?]. Pada fonem /o/
direalisasikan menjadi [ᴐ] misalnya pada kata dorong [dorᴐղ], ekor [эkᴐr],
gosok [gᴐsᴐ?], kotor [kᴐtᴐr], tombak [tᴐmbak].
Hasil penelitian
pada hubungan ucapan bunyi dengan fonem bahasa Indonesia ditemukan kecenderungan
masyarakat desa terhadap bahasa Indonesia. Mayoritas menggunakan fonem /a/
kemudian direalisasikan menjadi [ǝ], [e], [ᴐ], [ɛ], [o]
misalnya pada kata pusar [pusǝr], tajam [tajem], apa [ᴐpᴐ], bulat [bulэt], lima
[limo]. Fonem /i/ direalisasikan menjadi [I], [e], [ǝ] misalnya pada kata air
[aIr], putih [puteh], tarik [tarǝ?]. pada fonem /u/ direalisasikan [U], [o]
misalnya pada kata daun [daUn], usus [usos], pada fonem /e/ direalisasikan /ɛ/,
/ǝ/ misalnya pada kata ekor [эkᴐr],
berat [bǝrat]. Pada fonem /o/ direalisasikan menjadi /ᴐ/ misalnya pada kata
ekor [эkᴐr]. Namun perubahan itu tidak menjadi pembeda makna.
Penelitian ini
mengambil lokasi di desa Serangan kecamatan Bonang kabupaten Demak dengan
pendekatan kualitatif deskriptif. Data kebahasaan diperoleh dari informan yang
merupakan asli desa Serangan yang berupa tuturan bahasa jawa ngoko. Pengumpulan data dilakukan dengan
metode teknik wawancara dan observasi.
Analisis data dilakukan dengan deskriptif dengan merujuk buku Fonologi Bahasa Indonesia dan Asas-asas Linguistik.
PEMBAHASAN
A.
Kecenderungan
Bahasa
Bahasa menurut (muslich, 2012) adalah sistem bunyi ujar sudah disadari
oleh para linguis. Objek utama kajian linguistik bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk bunyi
ujar. Kalau dalam berbahasa dijumpai ragam bahasa tulis, dianggap sebagai
bahasa sekunder yaitu bahasa tulisan. Oleh karena itu, bahasa tulis bukan
menjadi sasaran utama kajian linguistik.
Bahasa menurut Secara
sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang
terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk
beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan
pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa
diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer,
produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
Konsekuensi logis dari anggapan bahkan dari cabang
linguistik terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi
dan lainnya yang bersumber dari bahasa lisan. Dan dikaji sesuai dengan
konsentrasi masing-masing. Misalnya, fonologi berkosentrasi pada persoalan
bunyi, morfologi pada persoalan struktur internal kata, sintaksis pada
persoalan susunan kata dalam kalimat, semantik pada persoalan makna kata,
leksikologi pada persoalan perbendaharaan kata.
Dari sinilah dapat dipahami bahwa bahasa adalah
bunyi ujar. Kajian bunyi ujar terdapat dicabang linguistik yang disebut dengan
fonologi. Dalam fonologi terdapat dua sudut pandang yang berbeda. Pertama,
fonetik adalah bunyi ujar yang dipanang sebagai media bahasa semata. Kedua,
fonemik adalah bunyi ujar yang dipandan. (Kurniawan, 2013) sebagai bagian
dari sistem bahasa. Bunyi ujar merupakan bagian dari struktur kata yang
berfungsi membedakan makna.
Menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistik, 2011) Fonetik dibedakan
menjadi tiga yaitu fonetik artikulator, fonetik akuistik, dan fonetik
auditoris. Fonetik artikulatoris adalah cabang fonetik yang mempelajari
bagaimana bunyi bahasa diucapkan oleh alat ucap. Fonetik akustik adalah cabang
fonetik yang membahasa bunyi sebagai getaran suara. Fonetik audistoris adalah
cabang fonetik yang mempelajari bagaimana bunyi dapat diterima oleh alat
pendengaran manusia. Dari ketiga cabang ini, fonetik akulatoris yang ada
hubungannya dengan ilmu bahasa, karena ilmu pada bunyi bahasa di dalam ilmu
bahasa diklasifikasikan berdasarkan cara pengucapan dan organ wicara yang
menghasilkan.
Menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistik, 2011) secara sederhana
bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh organ wicara dapat diklasifikasikan
menjadi dua jenis, yaitu vokoid dan kontoid.
1. Vokoid
Vokoid adalah semua
bunyi bahasa yang dihasilkan dengan arus udara yang tidak mengalami rintangan
disalah satu organ wicara. Bunyi-bunyi yang digolongkan ke dalam vokoid
diantaranya adalah [a], [i], [I], [u], [U], [e], [ɛ], [o], [ᴐ], dan [ǝ]. Vokoid
dibedakan menjadi tiga yaitu bagian lidah, posisi lidah, serta bentuk mulut.
a. Vokoid
yang dihasilkan bagian lidah
1) Depan:
[i], [I], [e], [ɛ], dan [a], Misalnya pada kata [ikan], [Indonesia], [ empat], [ɛkᴐr], [awan].
2) Tengah: [ǝ], misalnya pada kata [bǝnih]
3) Belakang: [u], [U], [o], [ᴐ], misalnya pada kata
[ular], [tandUk], [tahon], [kᴐtᴐr].
b. Vokoid
yang dihasilkan dengan posisi lidah
1) Tinggi
: [i], [u], misalnya pada kata [istri],
[tulaղ].
2) Madya tinggi: [I], [U], misalnya pada kata [jahIt],
[lurUs].
3) Madya: [e], [ǝ], [o], misalnya pada kata [lelaki],
[dǝbu], [oraղ].
4) Madya Rendah: [ɛ], [ᴐ], misalnya pada kata [ɛkᴐr],
[gᴐsᴐ?].
c. Vokoid
yang dihasilkan dengan bangun mulut
1) Bulat:
[u], [U], [o], [ᴐ], misalnya pada kata [tua],
[takUt], [tahon], [kᴐtᴐr].
2) Tidak Bulat: [i], [I], [e], [ɛ], [a], [ǝ], misalnya
pada kata [lidah], [alIr], [besar], [bulɛt], [ empat], [pǝras].
2. Diftong
Menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistk, 2011) diftong adalah gugus
vokoid yang terdiri atas dua vokoid yang diucapkan sebagai satu kesatuan. Adapun contohnya [aw],
[ay], misalnya pada kata danau [danaw], sungai [suղay]. Diftong harus dibedakan
dengan deret vokoid karena bunyi-bunyi dalam deret vokoid tidak diucapkan dalam
satu kesatuan, dan bunyi-bunyi itu silabis sehingga menjadi puncak satu kata.
Menurut (Wijana, Berkenalan
Dengan Linguistk, 2011) fonemik mempelajari bunyi-bunyi bahasa
yang merupakan bagian dari sistem bahasa tertentu. Dalam fonemik digunakan
istilah vokal untuk menyebut bunyi-bunyi yang arus udaranya tidak mengakami
rintangan dan konsonan untuk bunyi yang arus udaranya mengalami rintangan.
Adapun yang dibahas dalam fonemik adalah kapasitas bunyi dalam membedakan
makna.
1.
Fonem dan
Aloforn
Fonem menurut (Wijana, Berkenalan
Dengan Linguistk, 2011) adalah bunyi-bunyi yang memiliki
potensi untuk membedakan makna. Misalnya, dalam bahasa Indonesia bunyi [r], [t]
adalah fonem yang berbeda karena dalam bahasa Indonesia kata [baru], dan [batu]
memiliki perbedaan makna, dapat digambarkan sebagai berikut:
Alofon menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistik, 2011) adalah kondisi
sebuah fonem yang memasuki kondisi fonologis yang berbeda. Contoh alofon [i]
dan [I], [u] dan [U], [e] dan [ǝ] atau [ɛ], [o] dan [ᴐ], dapat diperhatikan:
2.
Bebas Fungsi
dan Variasi
Menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistk, 2011) fonem-fonem memiliki
beban karena memiliki kapasitas membedakan makna. Akan tetapi, ada fonem yang
memiliki beban fungsional tinggi dan beban fungsional rendah. Fonem yang banyak
ditemukan pasangan minimalnya adalah fonem dengan beban fungsional tinggi. sebaliknya,
bila pasangan minimal yang menunjukkan ke kontrasannya sedikit, fonem itu beban
fungsinya rendah. Fonem /k/ dan /?/ beban fungsinya rendah karena hanya
ditemukan satu atau dua pasangan minimal. Misalnya
B.
Perubahan
Bunyi Dalam Bahasa Indonesia
1.
Modifikasi
Vokal
Modifikasi Vokal menurut (muslich, 2012) adalah perubahan
bunyi vokal sebagai akibat dari pengaruh bunyi lain yang mengikutinya.
a. Kata
balik diucapkan (bali?), vokal [i] diucapkan rendah. Tetapi, ketika mendapatkan
sufiks-an, sehingga menjadi kata /balikan/ bunyi [I] berubah menjadi tinggi.
Perubahan ini akibat karena bunyi yang mengikutinya. Pada kata /balik/, bunyi
yang mengikutinya adalah hamzah (glotal stop), sedangkan pada kata /balikan/
bunyi yang menikutinya adalah dorso-velar [k]. Karena perubahan dari [i] ke [I]
masih dalam lingkup alofon dari satu fonem, maka perubahan tersebut disebut
dengan modifikasi vokal fonetis. Kata [garu?],
vokal [u] diucapkan rendah. Tetapi, ketika mendapat surfiks-an, sehingga
menjadi kata [garukan] bunyi U berubah menjadi tinggi. Perubahan ini
akibat karena bunyi yang mengikutinya. Pada kata [garuk], bunyi yang
mengikutinya adalah hamzah (glotal stop), sedangkan pada kata [garukan] bunyi
yang menikutinya adalah dorso-velar [k]. Karena perubahan dari [u] ke [U] masih
dalam lingkup alofon dari satu fonem, maka perubahan tersebut disebut dengan
modifikasi vokal fonetis.
2.
Netralisasi adalah perubahan bunyi fonem
sebagai akibat pengaruh dari lingkungan. Untuk menjelaskan kasus ini dapat
dicermati ilustrasi berikut. Dengan cara pasangan minimal [apa] dan [api] bisa
disimpulkan bahwa dalam bahasa Indonesia ada fonem [a] dan [i]. Dalam kondisi
tertentu pembeda antara [a] dan [i] bisa batal atau setidaknya bermasalah
karena dijumpai bunyi yang sama.
C.
Klasifikasi Bunyi
Segmental
1.
Mekanisme
Artikulasi
Menurut (muslich, 2012) mekanisme artikulasi
adalah alat ucap yang mana bekerja dan bergerak ketika menghasilkan bunyi
bahasa. Berdasarkan kriteria ini, bunyi dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a.
Bunyi
bilabial, yaitu yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir bawah dan bibir atas.
Caranya bibir bawah (sebagai articulator ) menyentuh bibir atas (sebagai titik
artikulasi). Misalnya, bunyi [p], [b], [m], [w]
[p] pada kata [panas],
[pasIr], [pǝrut], [pǝrǝmpUan], [penuh]
[b] pada kata [berat],
[bulan], [bǝri], [bulu]
[m] pada kata [merah],
[minum], [makan], [matahari], [mata]
[w] pada kata [waktu].
b.
Bunyi apiko
dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan
gigi (dentum) atas. Caranya ujung lidah (sebagai articulator) menyentuh gigi
atas (sebagai titik articulasi). Misalnya,
[t] pada
[tulaղ], [tajem], [tahon], [takUt], [tali], [tandU?]
[d] pada [di sini],
[n] pada [napas],
c.
Bunyi apiko
dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) dan gigi
(dentum) atas. Caranya bibir bawah sebagai articulator menyentuh gigi atas
sebagai titik artikulasi. Misalnya [f] dan [v].
d.
Bunyi apiko
alveolar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan
gusi (alveolum) atas. Misalnya [t] pada
[tahu], [d] pada [dudU?], dan [n] pada [nama].
e.
Bunyi lamino
palatal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tengah lidah dan
langit-langit keras. Caranya, tengah lidah menyentuh langit-langit keras.
Misalnya [ñ] pada [ñañi], [c] pada [cuci].
f.
Bunyi dorso
velar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah dan
langit-langit lunak. Misalnya, [k] pada [kaki], [g] pada [gigi], [ղ] pada kata
[diղin].
g.
Bunyi glotal,
yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan lubang atau celah pita suara.
Misalnya [?] pada [ibu?].
h.
Bunyi
laringal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tenggorokan. Misalnya,
[h] pada [jahIt].
Transkip
Wawancara
|
No.
|
Gloss
|
Ortografis
|
Fonetis
|
|
1
|
Abu
|
abu
|
[awu]
|
|
2
|
Air
|
air
|
[aIr]
|
|
3
|
Akar
|
akar
|
[akar]
|
|
4
|
Aku
|
[akU]
|
|
|
5
|
alir
(me)
|
alir
|
[alIr]
|
|
6
|
Anak
|
anak
|
[ana?]
|
|
7
|
Angin
|
angin
|
[aղIn]
|
|
8
|
Anjing
|
anjing
|
[anjIղ]
|
|
9
|
Apa
|
apa
|
[ᴐpᴐ]
|
|
10
|
Api
|
api
|
[api]
|
|
11
|
Apung
|
apung
|
apUղ]
|
|
12
|
Asap
|
asap
|
[asap]
|
|
13
|
Awan
|
awan
|
[awan]
|
|
14
|
Bagaimana
|
bagaimana
|
[bagaImana]
|
|
15
|
Baik
|
baik
|
[baI?]
|
|
16
|
Bakar
|
bakar
|
[bakar]
|
|
17
|
balik (me-)
|
balik
|
[balI?]
|
|
18
|
Bapak
|
bapak
|
[bapa?]
|
|
19
|
Baring
|
baring
|
[barIղ]
|
|
20
|
Baru
|
baru
|
[baru]
|
|
21
|
Basah
|
basah
|
[basah]
|
|
22
|
Batu
|
batu
|
[batu]
|
|
23
|
Bau
|
bau
|
[bau?]
|
|
24
|
Beberapa
|
beberapa
|
[bǝbǝrapa]
|
|
25
|
belah
(me)
|
belah
|
[bǝlah]
|
|
26
|
Benar
|
benar
|
[benǝr]
|
|
27
|
Benih
|
benih
|
[bǝnih]
|
|
28
|
Bengkak
|
bengkak
|
[bǝղka?]
|
|
29
|
Berenang
|
berenang
|
[bǝrǝnaղ]
|
|
30
|
Berjalan
|
berjalan
|
[bǝrjalan]
|
|
31
|
Berat
|
berat
|
[berat]
|
|
32
|
Beri
|
beri
|
[bǝri]
|
|
33
|
Besar
|
besar
|
[besar]
|
|
34
|
Bintang
|
bintang
|
[bintaղ]
|
|
35
|
Buah
|
buah
|
[buah]
|
|
36
|
Bulan
|
bulan
|
[bulan]
|
|
37
|
Bulat
|
bulat
|
[bulɛt]
|
|
38
|
Bulu
|
bulu
|
[bulu]
|
|
39
|
Bunga
|
bunga
|
[buղa]
|
|
40
|
Bunuh
|
bunuh
|
[bunUh]
|
|
41
|
Buruk
|
buruk
|
[burU?]
|
|
42
|
Burung
|
burung
|
[burUղ]
|
|
43
|
Busuk
|
busuk
|
[busu?]
|
|
44
|
Cacing
|
cacing
|
[cacIղ]
|
|
45
|
Cium
|
cium
|
[cium]
|
|
46
|
Cuci
|
cuci
|
[cuci]
|
|
47
|
Daging
|
daging
|
[dagIղ]
|
|
48
|
Dan
|
dan
|
[dan]
|
|
49
|
Danau
|
danau
|
[danaw]
|
|
50
|
Darah
|
darah
|
[darah]
|
|
51
|
Datang
|
datang
|
[dataղ]
|
|
52
|
Daun
|
daun
|
[daUn]
|
|
53
|
Debu
|
debu
|
[dǝbu]
|
|
54
|
Dekat
|
dekat
|
[dekat]
|
|
55
|
Dengan
|
dengan
|
[deղan]
|
|
56
|
Dengar
|
dengar
|
[deղar]
|
|
57
|
di
dalam
|
di
dalam
|
[di dalam]
|
|
58
|
di,
pada
|
di,
pada
|
[pada]
|
|
59
|
Dingin
|
dingin
|
[diղin]
|
|
60
|
diri
(ber)
|
berdiri
|
[berdiri]
|
|
61
|
di
sini
|
di
sini
|
[di sini]
|
|
62
|
di
sana
|
di sana
|
[di sana]
|
|
63
|
Dorong
|
dorong
|
[dorᴐղ]
|
|
64
|
Dua
|
dua
|
[dua]
|
|
65
|
Duduk
|
duduk
|
[dudU?]
|
|
66
|
Duri
|
duri
|
[duri]
|
|
67
|
Ekor
|
ekor
|
[ɛkᴐr]
|
|
68
|
Empat
|
empat
|
[ papat]
|
|
69
|
Enam
|
enam
|
[ enem]
|
|
70
|
Garam
|
garam
|
[garam]
|
|
71
|
Garuk
|
garuk
|
[garU?]
|
|
72
|
Gemuk
|
gemuk
|
[gǝmU?]
|
|
73
|
Gigi
|
gigi
|
[gigi]
|
|
74
|
Gigit
|
gigit
|
[gigIt]
|
|
75
|
Gosok
|
gosok
|
[gᴐsᴐ?]
|
|
76
|
Gunung
|
gunung
|
[gunUղ]
|
|
77
|
Hapus
|
hapus
|
[hapUs]
|
|
78
|
Hari
|
hari
|
[hari]
|
|
79
|
Hati
|
hati
|
[hati]
|
|
80
|
Hidung
|
hidung
|
[hidUղ]
|
|
81
|
Hidup
|
hidup
|
[hidup]
|
|
82
|
Hijau
|
hijau
|
[hijaw]
|
|
83
|
Hisap
|
hisap
|
[hisap]
|
|
84
|
Hitam
|
hitam
|
[hitam]
|
|
85
|
Hitung
|
hitu
|
[hitoղ]
|
|
86
|
Hujan
|
hujan
|
[hujan]
|
|
87
|
Hutan
|
hutan
|
[hutan]
|
|
88
|
Ia
|
ia
|
[ia]
|
|
89
|
Ibu
|
ibu
|
[ibu?]
|
|
90
|
Ikan
|
ikan
|
[ikan]
|
|
91
|
Ikat
|
ikat
|
[iket]
|
|
92
|
Istri
|
istri
|
[istri]
|
|
93
|
Ini
|
ini
|
[ini]
|
|
94
|
Itu
|
itu
|
[itu]
|
|
95
|
Jahat
|
jahat
|
[jahat]
|
|
96
|
Jahit
|
jahit
|
[jahIt]
|
|
97
|
Jalan
|
jalan
|
[jalan]
|
|
98
|
Jantung
|
jantung
|
[jantoղ]
|
|
99
|
Jatuh
|
jatuh
|
[jatoh]
|
|
100
|
Jauh
|
jauh
|
[jauh]
|
|
101
|
Kabut
|
kabut
|
[kabUt]
|
|
102
|
Kaki
|
kaki
|
[kaki]
|
|
103
|
kalau,
jika
|
kalau
|
[kalaw]
|
|
104
|
kami,
kita
|
kami
|
[kami]
|
|
105
|
Kamu
|
kamu
|
[kamu]
|
|
106
|
Kanan
|
kanan
|
[kanan]
|
|
107
|
Kapan
|
kapan
|
[kapan]
|
|
108
|
Karena
|
karena
|
[karena]
|
|
109
|
kata
(ber)
|
berkata
|
[berkata]
|
|
110
|
Kayu
|
kayu
|
[kayu]
|
|
111
|
Kecil
|
kecil
|
[kecil]
|
|
112
|
kelahi
(ber)
|
berkelahi
|
[kelahi]
|
|
113
|
Kepala
|
kepala
|
[kepala]
|
|
114
|
Kering
|
kering
|
[kǝriղ]
|
|
115
|
Kiri
|
kiri
|
[kiri]
|
|
116
|
Kotor
|
kotor
|
[kᴐtᴐr]
|
|
117
|
Kuku
|
kuku
|
[kuku]
|
|
118
|
Kulit
|
kulit
|
[kulIt]
|
|
119
|
Kuning
|
kuning
|
[kunIղ]
|
|
120
|
Kutu
|
kutu
|
[kutu]
|
|
121
|
Lain
|
lain
|
[laIn]
|
|
122
|
Langit
|
langit
|
[laղIt]
|
|
123
|
Laut
|
laut
|
[laut]
|
|
124
|
Lebar
|
lebar
|
[lɛbar]
|
|
125
|
Leher
|
leher
|
[leher]
|
|
126
|
Lelaki
|
lelaki
|
[lelaki]
|
|
127
|
Lempar
|
lempar
|
[lempar[
|
|
128
|
Licin
|
licin
|
[licIn]
|
|
129
|
Lidah
|
lidah
|
[lidah]
|
|
130
|
lihat
(me-)
|
melihat
|
[melihat]
|
|
131
|
Lima
|
lima
|
[limo]
|
|
132
|
Ludah
|
ludah
|
[ludah]
|
|
133
|
Lurus
|
lurus
|
[lurUs]
|
|
134
|
Lutut
|
lutut
|
[lutUt]
|
|
135
|
main
(ber-)
|
bermain
|
[bermaIn]
|
|
136
|
Makan
|
makan
|
[makan]
|
|
137
|
Malam
|
malam
|
[malam]
|
|
138
|
Mata
|
mata
|
[mata]
|
|
139
|
Matahari
|
matahari
|
[matahari]
|
|
140
|
Mati
|
mati
|
[mati]
|
|
141
|
Merah
|
merah
|
[merah]
|
|
142
|
Minum
|
minum
|
[minum]
|
|
143
|
Mulut
|
mulut
|
[mulUt]
|
|
144
|
Muntah
|
muntah
|
[muntah]
|
|
145
|
Nama
|
nama
|
[nama]
|
|
146
|
Napas
|
napas
|
[napas]
|
|
147
|
Nyanyi
|
nyanyi
|
[ñañi]
|
|
148
|
Orang
|
orang
|
[oraղ]
|
|
149
|
Panas
|
panas
|
[panas]
|
|
150
|
Panjang
|
panjang
|
[panjaղ]
|
|
151
|
Pasir
|
pasir
|
[pasIr
|
|
152
|
Pegang
|
pegang
|
[pegaղ]
|
|
153
|
Pendek
|
pendek
|
[pendэ?]
|
|
154
|
Penuh
|
penuh
|
[penuh]
|
|
155
|
Peras
|
peras
|
[pǝras]
|
|
156
|
Perempuan
|
perempuan
|
[pǝrǝmpUan]
|
|
157
|
Perut
|
perut
|
[pǝrut]
|
|
158
|
Pikir
|
pikir
|
[pikIr]
|
|
159
|
Pohon
|
pohon
|
[pohon]
|
|
160
|
Potong
|
potong
|
[potoղ]
|
|
161
|
Punggung
|
punggung
|
[puղgUղ]
|
|
162
|
Pusar
|
pusar
|
[puser]
|
|
163
|
Putih
|
putih
|
[puteh]
|
|
164
|
Rambut
|
rambut
|
[rambot]
|
|
165
|
Ratus
|
ratus
|
[ratUs]
|
|
166
|
Rumput
|
rumput
|
[rumpUt]
|
|
167
|
Satu
|
satu
|
[satu]
|
|
168
|
Sayap
|
sayap
|
[sayap]
|
|
169
|
Sedikit
|
sedikit
|
[sedikit]
|
|
170
|
Sempit
|
sempit
|
[sempIt]
|
|
171
|
Sempit
|
sempit
|
[sempIt]
|
|
172
|
Siang
|
siang
|
[siaղ]
|
|
173
|
Suami
|
suami
|
[suami]
|
|
174
|
Sungai
|
sungai
|
[suղay]
|
|
175
|
Tajam
|
tajam
|
[tajem]
|
|
176
|
Tahu
|
tahu
|
[tahu]
|
|
177
|
Tahun
|
tahun
|
[tahon]
|
|
178
|
Takut
|
takut
|
[takUt]
|
|
179
|
Tali
|
tali
|
[tali]
|
|
180
|
Tanah
|
tanah
|
[tanah]
|
|
181
|
Tanduk
|
tanduk
|
[tandU?]
|
|
182
|
Tangan
|
tangan
|
[taդan]
|
|
183
|
Tarik
|
tarik
|
[tarǝk]
|
|
184
|
Tebal
|
tebal
|
[tebal]
|
|
185
|
Telinga
|
telinga
|
[teliղa]
|
|
186
|
Telur
|
telur
|
[telor]
|
|
187
|
Terbang
|
terbang
|
[terbaղ]
|
|
188
|
Tertawa
|
tertawa
|
[tertawa]
|
|
189
|
Tetek
|
tetek
|
[tetɛk]
|
|
190
|
Tidak
|
tidak
|
[tida?]
|
|
191
|
Tidur
|
tidur
|
[tidUr]
|
|
192
|
Tiga
|
tiga
|
[tiga]
|
|
193
|
Tipis
|
tipis
|
[tipIs]
|
|
194
|
Tiup
|
tiup
|
[tiop]
|
|
195
|
Tombak
|
tombak
|
[tᴐmbak]
|
|
196
|
Tua
|
tua
|
[tua]
|
|
197
|
Tulang
|
tulang
|
[tulaղ]
|
|
198
|
Tumpul
|
tumpul
|
[tumpol]
|
|
199
|
Ular
|
ular
|
[ular]
|
|
200
|
Usus
|
usus
|
[usos]
|
Simpulan
Kesimpulan yang diambil dari penelitian yaitu 1) di Desa Serangan
terdapat kecenderungan bahasa, yaitu menyebutkan suatu kata dalam bahasa
Indonesia yang artinya sama. Tapi cara pelafalan semua orang berbeda. Seperti
dalam menyebut kata dalam bahasa Indonesia [apa], namun dalam bahasa jawa
menyebut [ᴐpᴐ], dan
perubahan fonem dalam bahasa Indonesia [abu], sedangkan dalam bahasa jawa
[awu], [lima] menjadi [limo], [enam] menjadi [enem] masih banyak lagi contoh
yang lainnya. 2) walaupun masyarakat Desa Serangan hidup dalam lingkungan sama,
namun dalam menggunakan bahasa jawa rata-rata 80 % sama, sehingga terdapat
adanya perubahan bunyi dalam bahasa indonesia sebagai contoh untuk
melafalkan pada
fonem /i/ diarelasikan menjad [I], fonem
/a/ diarelasikan menjadi [ᴐ], [U], [e], [ǝ],
fonem /u/ diarelasikan menjadi [U], [o], perubahan fonem /e/
diarelasikan menjadi [ɛ], [ǝ], fonem /o/ diarelasikan menjadi [ᴐ]. 3)
masyarakat dalam mengeluarkan bunyi ujar terdapat adanya pengaruh dari bunyi
segmental.
DAFTAR
PUSTAKA
Kurniawan, P. T. (2013). Analisis Fonologi dan Leksikologi Bahasa Jawa di
Desa Pakem Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo, Vol /0 2 /(4), 71–76.
I Dewa Putu Wijana. 2011. Berkenalan
Dengan Linguistik. Yogyakarta: A. Com Press.
J. W. M. Verhaar. 2004. Asas-asas
Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Masnur Muslich. 2012. Fonologi
Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Soeparno. 2012. Dasar-dasar
Linguistik. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
i.
,
Comments
Post a Comment