JURNAL KECENDERUNGAN MASYARAKAT BAHASA DAERAH TERHADAP BAHASA INDONESIA


JURNAL
KECENDERUNGAN MASYARAKAT BAHASA DAERAH TERHADAP BAHASA INDONESIA
Faridhatunnikmah28@gmail.com
Jurusan Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
IAIN Surakarta 
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kecenderungan masyarakat desa terhadap bahasa Indonesia. Kecenderungan bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia sangat berpengaruh di Desa Serangan Kecamatan Bonang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Subyek penelitian adalah Bapak Muhamad Sholeh, Ibu Siti, Ibu Fina yang merupakan seorang warga yang bermukim di Desa Serangan, serta salah seorang guru yang bernama pak Nur Kholis. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, dan observasi. Teknik analisis data menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kecenderungan masyarakat Desa Serangan terhadap bahasa Indonesia. (2) Perubahan bunyi bahasa daerah terhadap  bahasa Indonesia (3) Pengaruh bunyi segmental terhadap ujaran. Jadi, dapat disimpulkan  bahwa kecenderungan dalam pengucapan fonem, pada fonem /i/ diarelasikan menjad [I]/,  fonem /a/ diarelasikan menjadi [ᴐ], [U], [e], [ǝ],  fonem /u/ diarelasikan menjadi [U], [o], perubahan fonem /e/ diarelasikan menjadi [ɛ], [ǝ], fonem /o/ diarelasikan menjadi [ᴐ]. Sehingga masyarakat sudah terbiasa dengan dengan bahasa yang digunakan setiap hari. 

Kata kunci: kecenderungan bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia, perubahan bunyi, pengaruh bunyi segmental.



PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman, menurut (Muslich, 2012) bahasa adalah sistem bunyi ujar manusia yang sudah disadari oleh para linguis bahasa. Bahasa merupakan tutur kata suatu manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan. Setiap daerah memiliki ciri khas bahasa berbeda, tidak semuanya sama. Dalam pemerolehan bahasa di Desa Serangan mayoritas didapatkan dari bahasa ibu yaitu bahasa utama. Bahasa ibu yang digunakan Desa Serangan adalah bahasa jawa ngoko. Bahasa Jawa adalah bahasa utama yang didapat, sehingga digunakan sebagai ujaran setiap hari. Bahasa erat kaitannya dengan bunyi ujar.
Bahasa (Soeparno, 2002) adalah sebagai alat komunikasi social. Di dalam masyarakat ada komunikasi atau saling hubungan antar anggota. Untuk keperluan itu dipergunakan suatu wahana yang dinamakan bahasa. Dengan demikian masyarakat menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sosial.  
(Ardi Muqassary, 2013) bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.

Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama  merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.
Di  Desa Serangan sangat minim menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Masyarakat lebih cenderung menggunakan bahasa Jawa. Oleh karena itu kecenderungan ujaran bahasa daerah ke bahasa Indonesia mempengaruhi bunyi ujaran. Karena masyarakat sejak masih kecil sudah diajarkan bahasa jawa bukan bahasa Indonesia, sehingga ujaran yang sudah diajarkan sudah menjadi terbiasa.
 Masyarakat sering  melafalkan fonem /a/ masyarakat merealisasikan menjadi [ǝ], [e], [ᴐ], [э], [o] misalnya pada kata pusar [pusǝr], tajam [tajem], apa [ᴐpᴐ], bulat [bulэt], lima [limo]. Pada fonem /i/ direalisasikan menjadi [I] misalnya pada kata air [aIr], alir [alIr], angin [aղIn], anjing [anjIղ], bagaimana [bagaImana], baik [baI?], balik [balI?], baring [barIղ], cacing [cacIղ], daging [dagIղ], gigit [gigIt[, jahit [jahIt], kulit [kulIt], kuning [kunIղ], langit [laղIt], licin [licIn], bermain [bermaIn], pasir [pasIr], pikir [pikIr], sempit [sempIt], tipis [tipIs], sedangkan fonem /i/ juga dapat direalisasikan menjadi [e], [ǝ] misalnya pada kata putih [puteh], tarik [tarǝ?]. Pada fonem /u/ direalisasikan menjadi [U] misalnya pada kata aku [akU], bunuh [bunUh], buruk [burU?], burung [burUղ], daun [daUn], duduk [dudU?], garuk [garU?], gemuk [gǝmU?], gunung [gunUղ], hapus [hapUs], hidung [hidUղ], lurus [lurUs], lutut [lutUt], mulut [mulUt], perempuan [pǝrǝmpUan], punggung [puղgUղ], rumput [rumpUt], takut [takUt], tanduk [tandU?], tidur [tidUr],  sedangkan fonem /u/ juga dapat direalisasikan menjadi [o] misalnya pada kata hitung [hitoղ], jantung [jantoղ], jatuh [jatoh], rambut [rambot], tahun [tahon], telur [telor], tiup [tiop], tumpul [tumpol], usus [usos]. Pada fonem /e/ dapat direalisasikan menjadi [ǝ] misalnya pada kata beberapa [bǝbǝrapa], belah [bǝlah], benar [benǝr], benih [bǝnih], bengkak [bǝղka?], berenang [bǝrǝnaղ], berjalan [bǝrjalan], beri [bǝri], peras [pǝras], perempuan [pǝrǝmpUan], perut [pǝrut] sedangkan fonem /e/ juga dapat direalisasikan menjadi [ɛ] misalnya pada kata bulat [bulэt], ekor [ɛkᴐr], lebar [lɛbar], tetek [tetɛ?]. Pada fonem /o/ direalisasikan menjadi [ᴐ] misalnya pada kata dorong [dorᴐղ], ekor [эkᴐr], gosok [gᴐsᴐ?], kotor [kᴐtᴐr], tombak [tᴐmbak].
Hasil penelitian pada hubungan ucapan bunyi dengan fonem bahasa Indonesia ditemukan kecenderungan masyarakat desa terhadap bahasa Indonesia. Mayoritas menggunakan fonem /a/ kemudian direalisasikan menjadi [ǝ], [e], [ᴐ], [ɛ], [o] misalnya pada kata pusar [pusǝr], tajam [tajem], apa [ᴐpᴐ], bulat [bulэt], lima [limo]. Fonem /i/ direalisasikan menjadi [I], [e], [ǝ] misalnya pada kata air [aIr], putih [puteh], tarik [tarǝ?]. pada fonem /u/ direalisasikan [U], [o] misalnya pada kata daun [daUn], usus [usos], pada fonem /e/ direalisasikan /ɛ/, /ǝ/ misalnya pada kata ekor [эkᴐr], berat [bǝrat]. Pada fonem /o/ direalisasikan menjadi /ᴐ/ misalnya pada kata ekor [эkᴐr]. Namun perubahan itu tidak menjadi pembeda makna. 
Penelitian ini mengambil lokasi di desa Serangan kecamatan Bonang kabupaten Demak dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data kebahasaan diperoleh dari informan yang merupakan asli desa Serangan yang berupa tuturan bahasa jawa ngoko. Pengumpulan data dilakukan dengan metode  teknik wawancara dan observasi. Analisis data dilakukan dengan deskriptif dengan merujuk buku Fonologi Bahasa Indonesia dan Asas-asas Linguistik.

PEMBAHASAN
A.    Kecenderungan Bahasa
Bahasa menurut (muslich, 2012) adalah sistem bunyi ujar sudah disadari oleh para linguis. Objek utama kajian linguistik  bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk bunyi ujar. Kalau dalam berbahasa dijumpai ragam bahasa tulis, dianggap sebagai bahasa sekunder yaitu bahasa tulisan. Oleh karena itu, bahasa tulis bukan menjadi sasaran utama kajian linguistik.
Bahasa menurut  Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
Konsekuensi logis dari anggapan bahkan dari cabang linguistik terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi dan lainnya yang bersumber dari bahasa lisan. Dan dikaji sesuai dengan konsentrasi masing-masing. Misalnya, fonologi berkosentrasi pada persoalan bunyi, morfologi pada persoalan struktur internal kata, sintaksis pada persoalan susunan kata dalam kalimat, semantik pada persoalan makna kata, leksikologi pada persoalan perbendaharaan kata.
Dari sinilah dapat dipahami bahwa bahasa adalah bunyi ujar. Kajian bunyi ujar terdapat dicabang linguistik yang disebut dengan fonologi. Dalam fonologi terdapat dua sudut pandang yang berbeda. Pertama, fonetik adalah bunyi ujar yang dipanang sebagai media bahasa semata. Kedua, fonemik adalah bunyi ujar yang dipandan. (Kurniawan, 2013) sebagai bagian dari sistem bahasa. Bunyi ujar merupakan bagian dari struktur kata yang berfungsi membedakan makna.
Menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistik, 2011) Fonetik dibedakan menjadi tiga yaitu fonetik artikulator, fonetik akuistik, dan fonetik auditoris. Fonetik artikulatoris adalah cabang fonetik yang mempelajari bagaimana bunyi bahasa diucapkan oleh alat ucap. Fonetik akustik adalah cabang fonetik yang membahasa bunyi sebagai getaran suara. Fonetik audistoris adalah cabang fonetik yang mempelajari bagaimana bunyi dapat diterima oleh alat pendengaran manusia. Dari ketiga cabang ini, fonetik akulatoris yang ada hubungannya dengan ilmu bahasa, karena ilmu pada bunyi bahasa di dalam ilmu bahasa diklasifikasikan berdasarkan cara pengucapan dan organ wicara yang menghasilkan.
  Menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistik, 2011) secara sederhana bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh organ wicara dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu vokoid dan kontoid.
1.      Vokoid
Vokoid adalah semua bunyi bahasa yang dihasilkan dengan arus udara yang tidak mengalami rintangan disalah satu organ wicara. Bunyi-bunyi yang digolongkan ke dalam vokoid diantaranya adalah [a], [i], [I], [u], [U], [e], [ɛ], [o], [ᴐ], dan [ǝ]. Vokoid dibedakan menjadi tiga yaitu bagian lidah, posisi lidah, serta bentuk mulut.
a.       Vokoid yang dihasilkan bagian lidah
1)      Depan: [i], [I], [e], [ɛ], dan [a], Misalnya pada kata [ikan], [Indonesia], [ empat], [ɛkᴐr], [awan].
2)      Tengah: [ǝ], misalnya pada kata [bǝnih]
3)      Belakang: [u], [U], [o], [ᴐ], misalnya pada kata [ular], [tandUk], [tahon], [kᴐtᴐr].
b.      Vokoid yang dihasilkan dengan posisi lidah
1)      Tinggi : [i], [u], misalnya pada kata [istri], [tulaղ].
2)      Madya tinggi: [I], [U], misalnya pada kata [jahIt], [lurUs].
3)      Madya: [e], [ǝ], [o], misalnya pada kata [lelaki], [dǝbu], [oraղ].
4)      Madya Rendah: [ɛ], [ᴐ], misalnya pada kata [ɛkᴐr], [gᴐsᴐ?].
c.       Vokoid yang dihasilkan dengan bangun mulut
1)      Bulat: [u], [U], [o], [ᴐ], misalnya pada kata [tua], [takUt], [tahon], [kᴐtᴐr].
2)      Tidak Bulat: [i], [I], [e], [ɛ], [a], [ǝ], misalnya pada kata [lidah], [alIr], [besar], [bulɛt], [ empat], [pǝras].
2.      Diftong
Menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistk, 2011) diftong adalah gugus vokoid yang terdiri atas dua vokoid yang diucapkan  sebagai satu kesatuan. Adapun contohnya [aw], [ay], misalnya pada kata danau [danaw], sungai [suղay]. Diftong harus dibedakan dengan deret vokoid karena bunyi-bunyi dalam deret vokoid tidak diucapkan dalam satu kesatuan, dan bunyi-bunyi itu silabis sehingga menjadi puncak satu kata.

Menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistk, 2011) fonemik mempelajari bunyi-bunyi bahasa yang merupakan bagian dari sistem bahasa tertentu. Dalam fonemik digunakan istilah vokal untuk menyebut bunyi-bunyi yang arus udaranya tidak mengakami rintangan dan konsonan untuk bunyi yang arus udaranya mengalami rintangan. Adapun yang dibahas dalam fonemik adalah kapasitas bunyi dalam membedakan makna.
1.      Fonem dan Aloforn
Fonem menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistk, 2011) adalah bunyi-bunyi yang memiliki potensi untuk membedakan makna. Misalnya, dalam bahasa Indonesia bunyi [r], [t] adalah fonem yang berbeda karena dalam bahasa Indonesia kata [baru], dan [batu] memiliki perbedaan makna, dapat digambarkan sebagai berikut:
[r] dan [t]             [baru], dan [batu]          /r/ dan t/
[n] dan [s]           [benar] dan [besar]         /n/ dan /s/
[n] dan [t]           [bulan] dan [ bulat]        /n/ dan /r/
[n] dan [r]           [dengar] dan [dengan]      /n/ dan /r/
[j] dan [t]            [hujan] dan [hutan]         /j/ dan /t/
[a] dan [i]            [jahat] dan [jahit]            /a/ dam /i/
[u] dan [U]          [busu?] dan [burU?]       /u/ dan /U/

Alofon menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistik, 2011) adalah kondisi sebuah fonem yang memasuki kondisi fonologis yang berbeda. Contoh alofon [i] dan [I], [u] dan [U], [e] dan [ǝ] atau [ɛ], [o] dan [ᴐ], dapat diperhatikan:
[i] dan [I]           [gigi] dan [gigIt]
[u] dan [U]        [hidup] dan [hidUղ]; [busu?] dan [burU?]
[e] dan [ɛ]         [leher] dan [lɛbar]
[e] dan [ǝ]         [bener] dan [bǝnih]
[o] dan [ᴐ]             [tumpol] dan [tᴐmbak]

2.      Bebas Fungsi dan Variasi
Menurut (Wijana, Berkenalan Dengan Linguistk, 2011) fonem-fonem memiliki beban karena memiliki kapasitas membedakan makna. Akan tetapi, ada fonem yang memiliki beban fungsional tinggi dan beban fungsional rendah. Fonem yang banyak ditemukan pasangan minimalnya adalah fonem dengan beban fungsional tinggi. sebaliknya, bila pasangan minimal yang menunjukkan ke kontrasannya sedikit, fonem itu beban fungsinya rendah. Fonem /k/ dan /?/ beban fungsinya rendah karena hanya ditemukan satu atau dua pasangan minimal. Misalnya
 [anak] dan [ana?]             /k/ dan /?/
[baik] dan [baI?]               /k/ dan /?/
[balik] dan [bali?]              /k/ dan /?/
[bapak] dan [bapa?]          /k/ dan /?/
[beղkak] dan [beղka?]      /k/ dan /?/
[buruk] dan [buru?]       /k/ dan /?/
[busuk] dan [busu?]          /k/ dan /?/
[duduk] dan [dudU?]       /k/ dan /?/
[garuk] dan [garU?]          /k/ dan /?/
[gemuk] dan [gǝmU?]       k/ dan /?/

B.     Perubahan Bunyi Dalam Bahasa Indonesia
1.      Modifikasi Vokal
Modifikasi Vokal menurut (muslich, 2012) adalah perubahan bunyi vokal sebagai akibat dari pengaruh bunyi lain yang mengikutinya.
(Verhaar, 2004) mengatakan bahwa modifikasi vokal adalah modifikasi yang menyebabkan fonem vokal tertentu berubah menjadi fonem vokal yang lain. Perubahan ini sebenarnya bisa dimasukkan ke dalam peristiwa asimilasi, tetapi karena kasus ini tergolong khas, maka perlu disendirikan. Sebagai contoh seperti berikut.
a.       Kata balik diucapkan (bali?), vokal [i] diucapkan rendah. Tetapi, ketika mendapatkan sufiks-an, sehingga menjadi kata /balikan/ bunyi [I] berubah menjadi tinggi. Perubahan ini akibat karena bunyi yang mengikutinya. Pada kata /balik/, bunyi yang mengikutinya adalah hamzah (glotal stop), sedangkan pada kata /balikan/ bunyi yang menikutinya adalah dorso-velar [k]. Karena perubahan dari [i] ke [I] masih dalam lingkup alofon dari satu fonem, maka perubahan tersebut disebut dengan modifikasi vokal fonetis. Kata [garu?], vokal [u] diucapkan rendah. Tetapi, ketika mendapat surfiks-an, sehingga menjadi kata [garukan] bunyi U berubah menjadi tinggi. Perubahan ini akibat karena bunyi yang mengikutinya. Pada kata [garuk], bunyi yang mengikutinya adalah hamzah (glotal stop), sedangkan pada kata [garukan] bunyi yang menikutinya adalah dorso-velar [k]. Karena perubahan dari [u] ke [U] masih dalam lingkup alofon dari satu fonem, maka perubahan tersebut disebut dengan modifikasi vokal fonetis.

2.      Netralisasi adalah perubahan bunyi fonem sebagai akibat pengaruh dari lingkungan. Untuk menjelaskan kasus ini dapat dicermati ilustrasi berikut. Dengan cara pasangan minimal [apa] dan [api] bisa disimpulkan bahwa dalam bahasa Indonesia ada fonem [a] dan [i]. Dalam kondisi tertentu pembeda antara [a] dan [i] bisa batal atau setidaknya bermasalah karena dijumpai bunyi yang sama.

C.     Klasifikasi Bunyi Segmental
1.      Mekanisme Artikulasi
Menurut (muslich, 2012) mekanisme artikulasi adalah alat ucap yang mana bekerja dan bergerak ketika menghasilkan bunyi bahasa. Berdasarkan kriteria ini, bunyi dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a.       Bunyi bilabial, yaitu yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir bawah dan bibir atas. Caranya bibir bawah (sebagai articulator ) menyentuh bibir atas (sebagai titik artikulasi). Misalnya, bunyi [p], [b], [m], [w]
[p] pada kata [panas], [pasIr], [pǝrut], [pǝrǝmpUan], [penuh]
[b] pada kata [berat], [bulan], [bǝri], [bulu]
[m] pada kata [merah], [minum], [makan], [matahari], [mata]
[w] pada kata [waktu].

b.      Bunyi apiko dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan gigi (dentum) atas. Caranya ujung lidah (sebagai articulator) menyentuh gigi atas (sebagai titik articulasi). Misalnya,
 [t] pada  [tulaղ], [tajem], [tahon], [takUt], [tali], [tandU?]
[d] pada [di sini],
[n] pada [napas],
c.       Bunyi apiko dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) dan gigi (dentum) atas. Caranya bibir bawah sebagai articulator menyentuh gigi atas sebagai titik artikulasi. Misalnya [f] dan [v].
d.      Bunyi apiko alveolar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan gusi (alveolum) atas. Misalnya [t]  pada [tahu], [d] pada [dudU?], dan [n] pada [nama].
e.       Bunyi lamino palatal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tengah lidah dan langit-langit keras. Caranya, tengah lidah menyentuh langit-langit keras. Misalnya [ñ] pada [ñañi], [c] pada [cuci].
f.       Bunyi dorso velar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah dan langit-langit lunak. Misalnya, [k] pada [kaki], [g] pada [gigi], [ղ] pada kata [diղin].
g.      Bunyi glotal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan lubang atau celah pita suara. Misalnya [?] pada [ibu?].
h.      Bunyi laringal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tenggorokan. Misalnya, [h] pada [jahIt].
Transkip Wawancara
No.
Gloss
Ortografis
Fonetis
1                 
Abu
abu
[awu]
2                 
Air
air
[aIr]
3                 
Akar
akar
[akar]
4                 
Aku
aku
[akU]
5                 
alir (me)
alir
[alIr]
6                 
Anak
anak
[ana?]
7                 
Angin
angin
[aղIn]
8                 
Anjing
anjing
[anjIղ]
9                 
Apa
apa
[p]
10             
Api
api
[api]
11             
Apung
apung
apUղ]
12             
Asap
asap
[asap]
13             
Awan
awan
[awan]
14             
Bagaimana
bagaimana
[bagaImana]
15             
Baik
baik
[baI?]
16             
Bakar
bakar
[bakar]
17             
balik (me-)
balik
[balI?]
18             
Bapak
bapak
[bapa?]
19             
Baring
baring
[barIղ]
20             
Baru
baru
[baru]
21             
Basah
basah
[basah]
22             
Batu
batu
[batu]
23             
Bau
bau
[bau?]
24             
Beberapa
beberapa
[bǝbǝrapa]
25             
belah (me)
belah
[bǝlah]
26             
Benar
benar
[benǝr]
27             
Benih
benih
[bǝnih]
28             
Bengkak
bengkak
[bǝղka?]
29             
Berenang
berenang
[bǝrǝnaղ]
30             
Berjalan
berjalan
[bǝrjalan]
31             
Berat
berat
[berat]
32             
Beri
beri
[bǝri]
33             
Besar
besar
[besar]
34             
Bintang
bintang
[bintaղ]
35             
Buah
buah
[buah]
36             
Bulan
bulan
[bulan]
37             
Bulat
bulat
[bulɛt]
38             
Bulu
bulu
[bulu]
39             
Bunga
bunga
[buղa]
40             
Bunuh
bunuh
[bunUh]
41             
Buruk
buruk
[burU?]
42             
Burung
burung
[burUղ]
43             
Busuk
busuk
[busu?]
44             
Cacing
cacing
[cacIղ]
45             
Cium
cium
[cium]
46             
Cuci
cuci
[cuci]
47             
Daging
daging
[dagIղ]
48             
Dan
dan
[dan]
49             
Danau
danau
[danaw]
50             
Darah
darah
[darah]
51             
Datang
datang
[dataղ]
52             
Daun
daun
[daUn]
53             
Debu
debu
[dǝbu]
54             
Dekat
dekat
[dekat]
55             
Dengan
dengan
[deղan]
56             
Dengar
dengar
[deղar]
57             
di dalam
di dalam
[di dalam]
58             
di, pada
di, pada
[pada]
59             
Dingin
dingin
[diղin]
60             
diri (ber)
berdiri
[berdiri]
61             
di sini
di sini
[di sini]
62             
di sana
di sana
[di sana]
63             
Dorong
dorong
[dorᴐղ]
64             
Dua
dua
[dua]
65             
Duduk
duduk
[dudU?]
66             
Duri
duri
[duri]
67             
Ekor
ekor
[ɛkᴐr]
68             
Empat
empat
[ papat]
69             
Enam
enam
[ enem]
70             
Garam
garam
[garam]
71             
Garuk
garuk
[garU?]
72             
Gemuk
gemuk
[gǝmU?]
73             
Gigi
gigi
[gigi]
74             
Gigit
gigit
[gigIt]
75             
Gosok
gosok
[gᴐsᴐ?]
76             
Gunung
gunung
[gunUղ]
77             
Hapus
hapus
[hapUs]
78             
Hari
hari
[hari]
79             
Hati
hati
[hati]
80             
Hidung
hidung
[hidUղ]
81             
Hidup
hidup
[hidup]
82             
Hijau
hijau
[hijaw]
83             
Hisap
hisap
[hisap]
84             
Hitam
hitam
[hitam]
85             
Hitung
hitu
[hitoղ]
86             
Hujan
hujan
[hujan]
87             
Hutan
hutan
[hutan]
88             
Ia
ia
[ia]
89             
Ibu
ibu
[ibu?]
90             
Ikan
ikan
[ikan]
91             
Ikat
ikat
[iket]
92             
Istri
istri
[istri]
93             
Ini
ini
[ini]
94             
Itu
itu
[itu]
95             
Jahat
jahat
[jahat]
96             
Jahit
jahit
[jahIt]
97             
Jalan
jalan
[jalan]
98             
Jantung
jantung
[jantoղ]
99             
Jatuh
jatuh
[jatoh]
100         
Jauh
jauh
[jauh]
101         
Kabut
kabut
[kabUt]
102         
Kaki
kaki
[kaki]
103         
kalau, jika
kalau
[kalaw]
104         
kami, kita
kami
[kami]
105         
Kamu
kamu
[kamu]
106         
Kanan
kanan
[kanan]
107         
Kapan
kapan
[kapan]
108         
Karena
karena
[karena]
109         
kata (ber)
berkata
[berkata]
110         
Kayu
kayu
[kayu]
111         
Kecil
kecil
[kecil]
112         
kelahi (ber)
berkelahi
[kelahi]
113         
Kepala
kepala
[kepala]
114         
Kering
kering
[kǝriղ]
115         
Kiri
kiri
[kiri]
116         
Kotor
kotor
[kᴐtᴐr]
117         
Kuku
kuku
[kuku]
118         
Kulit
kulit
[kulIt]
119         
Kuning
kuning
[kunIղ]
120         
Kutu
kutu
[kutu]
121         
Lain
lain
[laIn]
122         
Langit
langit
[laղIt]
123         
Laut
laut
[laut]
124         
Lebar
lebar
[lɛbar]
125         
Leher
leher
[leher]
126         
Lelaki
lelaki
[lelaki]
127         
Lempar
lempar
[lempar[
128         
Licin
licin
[licIn]
129         
Lidah
lidah
[lidah]
130         
lihat (me-)
melihat
[melihat]
131         
Lima
lima
[limo]
132         
Ludah
ludah
[ludah]
133         
Lurus
lurus
[lurUs]
134         
Lutut
lutut
[lutUt]
135         
main (ber-)
bermain
[bermaIn]
136         
Makan
makan
[makan]
137         
Malam
malam
[malam]
138         
Mata
mata
[mata]
139         
Matahari
matahari
[matahari]
140         
Mati
mati
[mati]
141         
Merah
merah
[merah]
142         
Minum
minum
[minum]
143         
Mulut
mulut
[mulUt]
144         
Muntah
muntah
[muntah]
145         
Nama
nama
[nama]
146         
Napas
napas
[napas]
147         
Nyanyi
nyanyi
[ñañi]
148         
Orang
orang
[oraղ]
149         
Panas
panas
[panas]
150         
Panjang
panjang
[panjaղ]
151         
Pasir
pasir
[pasIr
152         
Pegang
pegang
[pegaղ]
153         
Pendek
pendek
[pendэ?]
154         
Penuh
penuh
[penuh]
155         
Peras
peras
[pǝras]
156         
Perempuan
perempuan
[pǝrǝmpUan]
157         
Perut
perut
[pǝrut]
158         
Pikir
pikir
[pikIr]
159         
Pohon
pohon
[pohon]
160         
Potong
potong
[potoղ]
161         
Punggung
punggung
[puղgUղ]
162         
Pusar
pusar
[puser]
163         
Putih
putih
[puteh]
164         
Rambut
rambut
[rambot]
165         
Ratus
ratus
[ratUs]
166         
Rumput
rumput
[rumpUt]
167         
Satu
satu
[satu]
168         
Sayap
sayap
[sayap]
169         
Sedikit
sedikit
[sedikit]
170         
Sempit
sempit
[sempIt]
171         
Sempit
sempit
[sempIt]
172         
Siang
siang
[siaղ]
173         
Suami
suami
[suami]
174         
Sungai
sungai
[suղay]
175         
Tajam
tajam
[tajem]
176         
Tahu
tahu
[tahu]
177         
Tahun
tahun
[tahon]
178         
Takut
takut
[takUt]
179         
Tali
tali
[tali]
180         
Tanah
tanah
[tanah]
181         
Tanduk
tanduk
[tandU?]
182         
Tangan
tangan
[taդan]
183         
Tarik
tarik
[tarǝk]
184         
Tebal
tebal
[tebal]
185         
Telinga
telinga
[teliղa]
186         
Telur
telur
[telor]
187         
Terbang
terbang
[terbaղ]
188         
Tertawa
tertawa
[tertawa]
189         
Tetek
tetek
[tetɛk]
190         
Tidak
tidak
[tida?]
191         
Tidur
tidur
[tidUr]
192         
Tiga
tiga
[tiga]
193         
Tipis
tipis
[tipIs]
194         
Tiup
tiup
[tiop]
195         
Tombak
tombak
[tᴐmbak]
196         
Tua
tua
[tua]
197         
Tulang
tulang
[tulaղ]
198         
Tumpul
tumpul
[tumpol]
199         
Ular
ular
[ular]
200         
Usus
usus
[usos]



Simpulan
Kesimpulan yang diambil dari penelitian yaitu 1) di Desa Serangan terdapat kecenderungan bahasa, yaitu menyebutkan suatu kata dalam bahasa Indonesia yang artinya sama. Tapi cara pelafalan semua orang berbeda. Seperti dalam menyebut kata dalam bahasa Indonesia [apa], namun dalam bahasa jawa menyebut [p], dan perubahan fonem dalam bahasa Indonesia [abu], sedangkan dalam bahasa jawa [awu], [lima] menjadi [limo], [enam] menjadi [enem] masih banyak lagi contoh yang lainnya. 2) walaupun masyarakat Desa Serangan hidup dalam lingkungan sama, namun dalam menggunakan bahasa jawa rata-rata 80 % sama, sehingga terdapat adanya perubahan bunyi dalam bahasa indonesia sebagai contoh untuk melafalkan  pada fonem /i/ diarelasikan menjad [I],  fonem /a/ diarelasikan menjadi [ᴐ], [U], [e], [ǝ],  fonem /u/ diarelasikan menjadi [U], [o], perubahan fonem /e/ diarelasikan menjadi [ɛ], [ǝ], fonem /o/ diarelasikan menjadi [ᴐ]. 3) masyarakat dalam mengeluarkan bunyi ujar terdapat adanya pengaruh dari bunyi segmental.








DAFTAR PUSTAKA
(Ardi Muqassary, 2013). “Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli” Jurnal Hasil Riset, 1, 1. http://www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-bahasa-menurut-para-ahli.html
Kurniawan, P. T. (2013). Analisis Fonologi dan Leksikologi Bahasa Jawa di Desa Pakem Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo, Vol /0 2 /(4), 71–76.
I Dewa Putu Wijana. 2011. Berkenalan Dengan Linguistik. Yogyakarta: A. Com Press.
J. W. M. Verhaar. 2004. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Masnur Muslich. 2012. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Soeparno. 2012. Dasar-dasar Linguistik. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.















i.         



























,



Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy

Menemukan Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Drama Cipoa Karya Putu Wijaya

KESALAHAN EJAAN DAN PENULISAN BAHASA INDONESIA Se-Solo Raya