PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN DRAMA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 KARTASURA
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL
PADA MATA PELAJARAN DRAMA SEKOLAH
MENENGAH ATAS NEGERI 1 KARTASURA
Faridhatun Nikmah
163151033
Tadris Bahasa Indonesia Institut
Agama Islam Negeri
Abstrak
Penelitian
ini dilatarbelakangi adanya penerapan strategi pembelajaran pada mata pelajaran
Drama di SMAN 1 Kartasura. Strategi pembelajaran drama tidak hanya diajarkan
secara tekstual, melainkan juga bisa diajarkan secara perfom atau praktik drama.
Peranan guru dalam pembelajaran sangat menentukan keberhasilan proses belajar
siswa. Guru memegang peran penting, karena guru harus mampu mengelola
komponen-komponen pembelajaran. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan strategi
pembelajaran untuk meningkatkan hasil
belajar siswa dalam materi pelajaran drama melalui model pembelajaran Kontekstual.
Pembelajaran ini mengajak siswa untuk mempraktikkan materi drama dalam bentuk
pertunjukkan drama. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif analisis. Teknik
pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara, catat, dan dokumentasi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Kontekstual sangat mendorong kegiatan pembelajaran.
Kata Kunci: Kontekstual,
keterampilan menulis, drama
LATAR BELAKANG
Salah
satu komponen yang sangat penting dalam dunia pendidikan adalah guru. Guru merupakan
ujung tombak pendidikan. Peran guru sangat besar dalam mengatur pelaksanaan
pendidikan. Dalam dunia pendidikan guru berhadapan secara langsung dengan
peserta didik. Karena tugas guru mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai positif
melalui pengajaran dan bimbingan dalam membentuk perilaku peserta didik. Oleh
karena itu, guru perlu metode dan model pembelajaran yang menarik. Agar peserta
didik mengikuti dan mendukung strategi yang dibuat.
Penggunaan
model pembelajaran merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam proses
pembelajaran. Setiap model pembelajaran mengarahkan peserta didiknya untuk
selalu aktif di kelas. Karena kesuksesan dalam pembelajaran adalah dorongan dan
keikutsertaan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran sehingga pembelajaran
berjalan dengan lancar..
Menurut
(Sufanti, 2012: 25) mengartikan
strategi bermakna pendekatan, metode, teknik, taktik, cara, dan siasat. Istilah
tersebut memiliki makna yang berbeda, tetapi semua istilah ini mengisyaratkan
pada berbagai upaya dalam melaksanakan sesuatu, sedangkan pengajaran adalah
proses, cara, dan perbuatan yang digunakan guru dalam berpartisipasi membangun
pemahaman siswa dari berbagai sumber informasi. Zainal dan Ban Bakhri (Dan, 2008) menyatakan
bahwa strategi pembelajaran diartikan sebagai pola umum kegiatan pengajaran dan
peserta didik dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang
telah digariskan.
Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan adanya penerapan model pembelajaran di
Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kartasura. Pembelajaran Contextual Teaching and Learning adalah salah satu pembelajaran
guna untuk meningkatkan siswa. Pembelajaran ini menekankan pada kegiatan
pembelajaran yang dirancang oleh guru. Rencana pembalajaran berisi tentang
tahapan pembelajaran yang dikaitkan dengan topik materi. Menurut Ismawati
(2011: 74) strategi pembelajaran adalah kegiatan, prosedur, langkah, metode,
dan teknik yang dipilih untuk mempermudah anak untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Jadi tugas guru mampu memilih dan menciptakan strategi
pembelajaran. Terciptanya pembelajaran efektif, efisien, dan menyenangkan
bergantung pada guru, baik pribadi maupun situasi dan kondisi kelas.
Penelitian
ini perlu dilakukan karena untuk mengetahui adanya penarapan model
pembelajaran, salah satunya adalah Contextual
Teaching and Learning. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang
mampu mengajak siswa untuk aktif di dalamnya. Oleh karena itu, seorang guru
harus mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa mudah
ikut serta dalam proses belajar dan merasakan kenyamanan dalam pembelajaran.
Guru harus mampu menciptakan model pembelajaaran menarik dan menagitkan materi
pembelajaran dengan lingkungan sekitar.
Fenomena
saat ini kalau kita ketahui kebanyakan dari seorang guru masih belum mampu
menciptakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Oleh karena itu menghambat adanya proses belajar mengajar dan menjadikan siswa
jenuh dengan pembelajaran. Tugas dari seorang guru tidak hanya mengajar saja,
melainkan mampu menyusun kegiatan pembelajaran dengan sebaik mungkin. Guru
dikatakan profesional jika sudah memenuhi kriteria yang ditentukan, jika salah
satu kriteria tersebut belum dicapai berarti guru dikatakan masih belum profesional.
Strategi
pembelajaran dapat diartikan sebagai seperangkat cara, teknik yang ditempuh
guru dalam mencapaikan materi pelajaran. Proses pembelajaran tidak terlepas
dari strategi pengajaran. Keduanya memiliki ikatan yang kuat dalam mencapai
tujuan pengajaran. Kegunaan strategi pembelajaran pada guru dijadikan sebagai
pedoman dan landasan bertindak secara sistematis dalam proses pembelajaran,
sedangkan bagi siswa dapat mempermudah proses pembelajaran dan memahami isi
pembelajaran. Menurut (Suwarni, 2013) komponen
pembelajaran Contextual Teaching and
Learning terbagi menjadi tujuh, yaitu afektif, konstruktivisme, inquiri,
bertanya, masyarakat belajar, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
Pembelajaran
bahasa Indonesia mencakup empat ketrampilan, yaitu menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. Jadi keempat itu saling berkaitan antara menyimak dengan
berbicara dan antara membaca dengan berbicara. Saat kita menyimak pasti kita
bisa berbicara, begitupun juga semakin kita banyak membaca semakin mudah pula
kita dalam menulis. Dalam hal ini peneliti menekankan pada keterampilan
menulis. Keterampilan menulis adalah suatu daya untuk menciptakan tulisan.
Menurut Suroso (2007: 37) keterampilan menulis merupakan salah satu aspek
keterampilan berbahasa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan
adanya keterampilan menulis, seseorang dapat mengungkapkan ide, pikiran,
perasaan melalui tulisan.
Keterampilan
menulis pada peserta didik masih dikatakan minim. Karena kebanyakan dari mereka
tidak suka menulis. Mereka menganggap bahwa
keterampilan menulis adalah hal yang membosankan dan juga memerlukan
waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu, keterampilan menulis sangat
dihindari di kalangan anak-anak. Meskipun ada beberapa anak yang memiliki
keterampilan menulis juga tidak memberikan pengaruh pada anak karena dalam keterampilan
menulis didominasi oleh anak yang tidak memiliki keterampilan menulis.
Dalam
pembelajaran drama kebanyakan guru lebih memilih memberikan materi secara terus
menerus tanpa menyuruh anak untuk praktik secara langsung. Hal itulah yang
menjadikan peserta didik hanya memahami teorinya saja dan tidak bisa mengaplikasikan
secara langsung. Sehingga pengetahuan yang dimiliki anak masih sempit.
Pembelajaran drama perlu adanya praktik karena jika hanya melulu pada materi
menjadikan anak membayangkan dan mudah lupa. Tapi jika pembelajaran itu
dilakukan secara praktik langsung membuat anak mudah mengingat dan menjadikan
pembelajaran tidak monoton.
Alasan
peneliti memilih judul “Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Pada Mata
Pelajaran Drama di SMAN 1 Kartasura” untuk meneliti mata pelajaran drama yang
dikaitkan dengan penerapan model pembelajaran Kontekstual di Sekolah Menengah
Atas Negeri 1 Kartasura. Dengan adanya penelitian ini penulis mampu menemukan data
menarik dari hasil penelitian sehingga peneliti mampu memaparkan data yang
dimiliki melalui jurnal ini.
Dalam
penelitian sebelumnya memang sudah banyak yang meneliti model pembelajaran Contextual Teaching and Learning atau
Kontekstual. Namun, dalam penelitian ini memiliki nilai kebaruan tersendiri. Kebaharuan
pada peneliti ini lebih menekankan pada model pembelajaran kontekstual yang
lebih menekankan mata pelajaran drama.
Kajian Pustaka
Dalam
penelitian ini peneliti mengambil kajian pustaka (Suwarni, Dibia, & Renda, 2013: 3) Menurut CTL
adalah salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan oleh The Washington State Consortium for
Contextual Theaching adn Learning. CTL memiliki tujuh komponen utama yaitu
(1) Konstruktivisme, (2) Inkuiri, (3) bertanya, (4) masyarakat belajar, (5)
pemodelan, (6) refleksi, dan (7) penilaian yang sebenarnya. CTL disebut
pendekatan kontekstual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Contextual Teaching and
Learning (CTL) adalah suatu model pembelajaran yang
menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan
materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata
sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2008: 225).
Menurut
(Suprijono, 2009: 79) Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan
konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dalam masyarakat. Pembelajaran kontekstual merupakan proses
pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran
yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan
mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat.
Selain
itu, (Howey R, 2001: 45) mendefenisikan
CTL sebagai berikut:: CTL adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya
proses belajar di mana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akdemiknya
dalam berbagai konteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan masalah yang
bersifat simulatif ataupun nyata baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Dapat disimpulkan bahwa Model pembelajaran CTL (Contekstual Teaching Learning)
merupakan metode pembelajaran yang bisa dikatakan efektif untuk meningkatkan
hasil belajar siswa yang melibatkan siswa untuk aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
Metode Penelitian
Penelitian
dilakukan pada tanggal 24 Mei 2018. Bertempat di SMA Negeri 1 Kartasura, Jalan Solo
Yogya KM 11, Pucangan Kartasura. Subjek penelitian Subjek penelitian ini adalah
kelas XI A SMA Negeri 1 Kartasura tahun 2017/2018 yang memiliki jumlah 35
siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif.
Pelaksanaan penelitian yang dilakukan dengan cara mengamati dan observasi.
Tahap yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan pertunjukan drama
secara langsung oleh anak XI A, pencatatan, dan penggalian informasi dari
sumber peristiwa yang dikaji, pengumpulan data diperoleh melalui hasil
wawancara dari salah satu guru yaitu bu Arining yang mengampu mata pelajaran
bahasa Indonesia di kelas XI, dokumentasi yang diambil dari penampilan anak
saat pentas, wawancara, dan juga lampiran, dan terakhir analisis data. Peneliti
mengaitkan data yang di dapat dengan referensi atau sumber data yang diperoleh
melalui buku, jurnal, atikel, dan sebagainya.
PEMBAHASAN
A. Pembelajaran
Kontekstual
Pembelajaran
Kontekstual (Sufanti, 2012) Merupakan suatu
proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami
makna materi yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan
kehidupan sehari-hari, sehingga siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang
secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan konteks ke
permasalahan konteks lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat (Johnson, 2009: 65) menyatakan
bahwa CTL (Contextual Teaching and
Learning) adalah sebuah sistem yang menyeluruh. Adapun sistem CTL memiliki delapan komponen yaitu: membuat
kaeterkaitan pembelajaran yang diatur sendiri, bekerja sama, berpikir kritis,
dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang mencapai standar
yang tinggi. dan menggunakan penilaian autentik. Dengan demikian bahwa
pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang dirancang agar siswa mampu
mengaitkan apa yang dipelajari dengan konteks dalam kehidupan sehari=hari
dengan berbagai strategi belajar yang bervariasi.
Pembelajaran
memiliki karakteritik yang berbeda dengan pembelajaran lainnya. Karakteristik
Pembelajaran Berbasis kontekstual adalah kerja sama, saling menunjang, tidak
membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan
berbagai sumber dan siswa aktif, sedangkan menurut (Muslich, 2009: 12) menyebutkan
pembelajaran kontekstual mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Membelajaran
dilaksanakan dalam konteks autentik yaitu pembelajaran yang diarahkan pada
ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang
dilaksnakan dalam kehidupan ilmiah (learning
in real life setting).
2. Pembelajaran
memberi kesempatan pada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaning full).
3.
Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan
pengalaman bermakna kepada siswa (learning
by doing0.
4. Pembelajaran
dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, dan saling mengoreksi (learning in group)
5.
Pembelajaran memberoikan kesempatan
untuk menciptakan rasa keberjasamaan, kerja sama, saling memahami, dan
mendalami (learning to know each other
deeply)
6. Pembelajaran
dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama
(learning ask, to inquiry, to work together).
7.
Pembelajaran dilaksanakan dalam
sitasi yang menyenangkan (learning as an
enjoy activity).
Tujuh
komponen pembelajaran kontekstual (a) constructivisme,
(b) inquiry, (c) questioning, (d) learning
community, (e) modelling, (f) reflection,
(g) authentic assessment.
1. Konstruktivisme
(Constructivisme)
Komponen
ini merupakan landasan filosofis CTL pembelajaran harus dikemas menjadi proses
mengonstruksi bukan menerima pengetahuan. Mengonstruksi berarti membangun
pengetahuan melalui pemahaman baru berdasarkan pengetahuan awal. Hal ini sesuai
dengan pendapat (Mansur Muslich, 2008: 44) menyatakan bahwa pembelajaran konstruktivisme
menekankan terbangunnya pemehaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif
berdasarkan pengetahuan terdahulu dari pengalaman belajar yang bermakna.
Pengetahuan bukanlah seranglkaian fakta, konsep, dan kaidah yang dipraktikkan,
tetapi perlu dikonstruksi lebih dahulu dan diberi makna melalui pengalaman
nyata. Oleh karena itu siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah,
menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada
pada dirinya.
2. Inkuiri
(inquiry)
Inkuiri
adalah kegiatan inti dari pembelajaran kontekstual yaitu menemukan. Kegiatan
ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan
bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri (Mansur Muslich, 2008: 45). Berdasarkan pendapat tersebut, maka hasil penelitian
pembelajaran siswa SMAN 1 Kartasura berupa pengetahuan, sikap, ketrampilan yang
diperoleh sendiri melalui pembuatan teks drama dan ketrampilan untuk
mementaskan drama secara totalitas. Dalam hal ini siswwa tidak hanya menghafal
dan mengingat materi pembelajaran drama saja, tetapi praktik drama secara
langsung sesuai peran tokoh.
3. Bertanya
(Question)
Bertanya
merupakan strategi pembelajaran CTL. Belajar dipandang sebagai upaya guru untuk mendorong siswa
mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus
mengetahui perkembangan kemampuan berpikir. Memperoleh pengetahuan siswa
bermula dari bertanya (Mansur Muslich, 2008: 44).
Berdasarkan hasil
penelitian di SMAN 1Kartasura, selaku guru bahasa Indonesia yang dilakukan
dalam proses pembelajaran drama guru sering bertanya kepada siswa, sebagai
upaya untuk mendorong siswa dan berpikir mengetahui sesuatu sampai menemukan
sesuatu. Misalnya saat pembelajaran berlangsung “Di sini ada yang tahu drama” atau “Siapa yang sudah pernah menonton drama” dalam hal ini siswa mulai
merespon pertanyaan dari guru, sehingga pembelajaran tersebut melibatkan siswa
untuk aktif dalam pembelajaran. Karena dalam pembelajaran tidak hanya guru saja
yang aktif melainkan juga siswanya harus aktif sehingga proses belajar mengajar
tercapai.
4. Konsep
Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajara menyarankan bahwa
hasil belajar diperoleh dari kerja sama dengan orang lain (Mansur Muslich, 2008: 46). Konsep ini
menyarankan bahwa bekerja sama dengan orang lain lebih baik daripada belajar
sendiri. Berdasarkan konsep ini pembelajaran dikemas dalam bentuk kelompok,
diskusi, sehingga menjadikan antara kelompok untuk saling bekerja sama satu
sama lain.
Berdasarkan hasil
penelitian di SMAN 1 Kartasura menemukan bahwa pembelajaran drama dilakukan
secara kelompok, (a) guru membagi beberapa kelompok, (b) setiap kelompok
terdiri dari tujuh siswa, (c) setiap keloimpok membuat naskah teks drama dengan
tema bebas, (d) naskah drama yang sudah dibuat dipentaskan. Dalam hal ini dapat
diketahui bahwa penerapan pembelajaran di SMAN 1 Surakarta juga menerapkan
adanya konsep belajar masyarakat. dalam hal ini guru menginginkan agar siswa
satu sama lain bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama dan menjadikan
hubungan individu dalam sebuah kelas menjadi lebih harmonis.
5. Pemodelan
(Modelling)
Pemodelan
menyarankan bahwa pembelajaran pengetahuan, sikap, maupun ketrampilan perlu
menghadirkan model yang perlu ditiru, model yang dimaksud berupa pemberian
contoh (Muslich, 2008: 46). Pemberian
contoh yang dimaksud bisa berupa menunjukkan hasil karya, mengoperasikan
sesuatu, mempertontonkan penampilan, atau menunjukkan peristiwa yang
bersangkutan dengan pembelajaran.
Berdasarkan hasil
penelitian di SMAN 1 Kartasura ditemukan adanya pembelajaran drama. (a) guru
menampilkan pertunjukkan drama, (b) guru memberikan tugas pada anak untuk
membuat naskah teks drama dengan tema bebas, (c) guru memberikan tugas naskah
teks drama yang sudah dibuat untuk dipentaskan sesuai dengan peran tokoh
masing-masing. Dalam hal ini dikatakan bahwa model pembelajaran yang dipakai
seorang guru lebih mengarah pada Student
Center sehingga menjadikan siswa untuk aktif dan mengembangkan bakat atau
ketrampilan yang dimiliki.
Kehadiran model
pembelajaran yang diciptakan guru di kelas akan mengurangi kesalah pahaman
dalam pengetahuan yang hanya bersifat verbalistik.
6. Refleksi
(Reflection)
Refleksi
merupakan kegiatan perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari (Muslich, 2008) (Muslich, 2008: 46).
Perenungan dilakukan dengan memikirkan kembali apa yang baru saja dipelajari,
menelaah dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi
dalam pembelajaran bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan. Dengan
kegiatan ini siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru saja diperolehnya
merupakan pengayaan, atau revisi dari pengetahuan yang dimiliki selama ini.
kesadaran seperti ini harus ditanamkan kepada siswa agar memiliki sifat terbuka
terhadap ilmu pengetahuan dan menyadari bahwa kebenaran pengetahuan bersifat
relatif.
7. Penilaian
Autentik (Autentik Assesment)
Penilaian
autentik adalah proses pengumpulan berbagai data pengalaman siswa. (Muslich,
2008: 47). Gambaran perkembangan pengalaman siswa perlu diketahui oleh guru
untuk mengetahui benar tidaknya proses
belajar siswa. Dengan demikian, penilaian autentik harus mampu mengukur
apa yang seharusnya diukur. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan pada
pengamatan, analisis data, dan penafsiran data ketika observasi. Penilaian
autentik bukan menghakimi siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan
pengalaman belajar siswa. Penilaian ini dilakukan secara komprehensif dan
seimbang antara penilaian hasil dengan penilaian proses. Guru hendaknya menjadi
penilaian konstruktif yang dapat merefleksikan bagaimana siswa belajar,
bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai konteks,
dan bagaimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks belajar.
B. Keterampilan
Menulis
Keterampilan
menulis merupakan suatu bentuk ketrampilan bahasa menyusun kata-kata dalam
bentuk tulisan. Kemampuan ini adalah kemampuan yang paling sulit untuk dikuasai.
Karena keterampilan ini membutuhkan waktu yang panjang. Jika kita tidak
memiliki ide untuk dituliskan maka kita tidak bisa menulis, kemampuan menulis
sangat berkaitan dengan kemampuan membaca. Semakin banyak buku yang dibaca maka
semakin mudah kita menulis. Jadi kemampuan membaca sangat mempengaruhi
ketrampilan untuk menulis.
Menurut
(Suwarni, 2013: 6) keterampilan
menulis adalah salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh
siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekpresikan gagasan
atau pendapat, pemikiran,dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, dapat
mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis. Keterampilan
menulis sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari sedangkan Menurut (Suroso, 2007: 37) kecakapan
menulis merupakan salah satu aspek kecakapan berbahasa yang sangat penting
dalam kehidupan manusia. Dengan kecakapan menulis, seseorang dapat
mengungkapkan ide, pikiran, persasaan, dan kecakapannya kepada orang lain
melalui tulisan.
Menurut
(Tarigan, 2008: 3) fungsi dari keterampilan menulis adalah sebagai alat
komunikasi secara tidak langsung, karena ketrampilan ini tidak dilakukan dengan
tatap muka. Ketrampilan ini hanya membutuhkan pikiran dan kekreativitasan.
Dalam kegiatan ini penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur
bahasa dan kosa kata yang harus diperhatikan. Dalam penelitian ini lebih
menekankan pada ketrampilan menulis naskah drama.
Menurut
(Widayaningtyas, 2016: 74) Aktivitas
belajar bahasa Indonesia materi menulis naskah drama meliputi membaca,
mendengarkan uraian, mengeluarkan pendapat, diskusi, menganalisis, menulis
naskah, menaruh minat, gembira, dan berani. Kata-kata tersebut dikelompokkan
pada penilaian diskusi, kerja sama, dan keaktivan. Oleh karena aktivitas
sebelum tampil pentas drama harus punya teks naskah drama terlebih dahulu.
Karena teks drama sebagai pedoman atau landasan pentas secara langsung.
Proses
menulis dilakukan dengan merangkai kata menjadi kalimat, menyusun kalimat
menjadi paragraf, menyusun paragraf menjadi kalimat kompleks yang mengusung
pokok persoalan. Pokok persoalan di dalam tulisan disebut gagasan atau pikiran.
Gagasan tersebut menjadi dasar bagi berkembangnya tulisan. Saat kita menulis
itu berdasarkan pengalaman, ide, gagasan, dan pendapat. Jadi menulis
membutuhkan waktu yang lama. Jika kita tidak suka membaca maka kita akan
kesusahan untuk menulis.
Hasil
penelitian yang ditemukan dalam keterampilan menulis di SMAN 1 Kartasura adalah
guru lebih menyuruh siswanya untuk menulis teks naskah drama dalam bentuk
kelompok dengan tema bebas dalam jangka waktu satu minggu. Jadi dalam kurun
waktu seminggu itu anak harus menyusun teks drama yang dipilih. Dalam satu
minggu mengecek hasil kerjaan anak sekaligus memberi masukan.
C. Drama
Menurut (Gani, 1988: 262) menjelaskan
bahwa drama adalah komposisi literer yang menyampaikan sebuah cerita, mengenai
konflik kemanusiaan, dengan menggunakan dialog dan gerak sebagai alat dan dalam
bentuk pentas. Selanjutnya dijelaskan drama merupakan betuk yang paling konkrit
yang secara artistik dapat menciptakan kembali situasi kemanusiaan dan hubungan
kemanusiaan sedangkan menurut (Hasanuddin, 2009: 229) kata drama
berasal dari bahasa Yunani to dran
yang maknanya adalah berbuat. Pengertian drama adalah: (1) karya tulis untuk
teater; (2) setiap situasi yang mempunyai konflik dan penyelesaian cerita
(resolution); (3) jenis sastra berbentuk dialog, yang biasa untuk
dipertunjukkan di atas pentas. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan
bahwa drama adalah suatu genre (jenis) sastra yang ditulis dalam bentuk dialog
dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai suatu seni pertunjukan.
Drama dalam penciptaannya dipengaruhi oleh faktor
ekstrinsik, seperti kreativitas pengarang, dan realitas objektif (kenyataan
semesta). Dari dalam karya itu sendiri cerita dibentuk dari unsur- unsur
penokohan, alur, latar, konflik, tema, dan amanat, serta aspek gaya bahasa.
Drama dalam konteks seni pertunjukan dibentuk dan dibangun oleh unsur-unsur
yang menyebabkan suatu pertunjukkan dapat terlaksana.
Menurut
(Yurnelis, 2013: 30) Fungsi dari
drama yaitu pertama sebagai wadah bagi pengarang untuk menyampaikan informasi,
menjelaskan fakta, atau ide-ide utama. Kedua gambaran tentang watak, sifat atau
perasaan masing-masing tokoh. Ketiga, melukiskan suasana. Keempat, sebagai
pengungkapan tema.
Dalam penelitian di kelas XI A ditemukan
pembelajaran yang dilakukan pada mata pelajaran bahasa Indonesia yaitu drama,
output dari pembelajarannya adalah pentasdrama. Jadi semua anak menampilkan
drama yang sudah dibuat sesuai dengan penyusunan naskah teks drama yang
dilakukan. Setiap kelompok terdiri dari 6-7 anggota dan masing-masing
memerankan perannya sesuai tema yang dipilih oleh kelompok. Penilaiannya dengan
memperhatikan ekspresi, mimik, wajah, penghayatan,vocal, intonasi, dan
sebagainya. Setelah pentas anak diberi kesempatan untuk menilai dari
pementasan. Kemudian guru mengevaluasi penampilan anak dan memberikan masukan,
agar ke depannya bisamenjadi pembelajaran anak.
KESIMPULAN
Pembelajaran kontekstual adalah konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi
dunia nyata siswa, sehingga mendorong siswa untuk selalu aktif dalam
pembelajaran. Dalam pembelajaran kontekstual terbagi menjadi tujuh komponen
pembelajaran, yaitu constructivisme, inquiry, questioning, learning community, modelling, reflection, authentic assessment.
Ketrampilan
menulis adalah suatu kecakapan yang lebih condong dalam dunia kepenulisan. Fungsi
dari keterampilan menulis adalah sebagai
alat komunikasi secara tidak langsung karena ketrampilan ini tidak dilakukan
dengan tatap muka. Dalam keterampilan menulis hanya membutuhkan pikiran dan kreativitas.
Dalam kegiatan ini penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur
bahasa dan kosa kata yang harus diperhatikan.
Drama
adalah suatu cerita atau kisah yang melibatkan konflik atau emosi secara
langsung dan dipertunjukkan di depan umum. Fungsi dari drama adalah sebagai hiburan,
kedua, sebagai wadah bagi pengarang untuk menyampaikan informasi, ketiga melukiskan
suasana. Keempat, sebagai pengungkapan tema. Drama tidak hanya dijadikan
sebagai pertontonan saja melainkan dalam dram juga terdapat amanat yang dapat
kita ambil dari sebuah cerita yang dimainkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Dan, iskandar
W. dan D. S. (2008). No Title. In Strategi Pembelajaran Bahasa.
Gani, R. (1988). No Title. In Pengajaran Sastra Indonesia.
Respons dan Analisis. Padang: Dian Dinamika Press.
Hasanuddin, W. (2009). No Title. In Drama: Karya Dalam Dua
Dimensi. Bandung: Angkasa Madya.
Howey R, K. (2001). No Title. In Distance Teaching for
Hight and Adult Education (London). Croon Helm.
Johnson, E. B. (2009). No Title. In Contextual Traching
and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna.
Bandung: Mizan Media Utama.
Mansur Muslich. (2008). No Title. In KTSP, Pembelajaran
Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Muslich, M. (2009). No Title. In KTSP, Pembelajaran
Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, W. (2008). No Title. In Strategi Pembelajaran.
Bandung: Kencana Prenada Media Group.
Sufanti. (2012). No Title. In Strategi Pengajaran Bahasa
dan Sastra Indonesia (2nd ed.). Surakarta: Yuma Pustaka.
Suprijono, A. (2009). No Title. In Cooperayif Learning.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suroso. (2007). No Title. In Penelitian Tindakan Kelas
Kemampuan Menulis Melalui Classroom Action Research.
Suwarni, K., Dibia, K., & Renda, N. T. (2013). Penerapan
Ctl untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Menulis Puisi Kelas Iii Sd N
1 Labasari Kecamatan Abang, 5.
Tarigan, H. G. (2008). N. In Menulis sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Widayaningtyas, W. (2016). Pembelajaarn CIRC Teknik
Periklabalado untuk Meningkatkan Keterampilan dan Aktivitas Belajar Menulis
Naskah Drama Siswa Kelas XI IPA 1 Kramat. Penelitian Dan Wacana Pendidikan,
10(1), 68–84.
Yurnelis, Husanuddin WS, E. (2013). Peningkatan Keterampilan
Menulis Naskah Drama Melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Siswa Kelas
VIII-1 SMP N 12 Padang. Bahasa, Sastra Dan Pembelajaran, 1(2).
Lampiran
1
Transkip Wawancara
A: Apakah SMAN 1
Kartasura sudah menerapkan pembelajaran Contextual
Teaching and Learning dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia?
B: SMAN 1 Kartasura
sudah menerapkan adanya pembelajaran Contextual
Teaching and Learning?
A: Bagaimana sistem
penerapan Contextual Teaching and
Learning di SMAN 1 Kartasura?
B: Penerapannya adalah tergantung
dari materi yang diajarkan, kalau ini kan materinya tentang drama. Jadi yang
saya terapkan dalam pembelajarannya adalah anak saya perlihatkan video di LCD
terkait drama. Setelah itu anak saya bagi menjadi beberapa kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari tujuh anak. Setelah itu minggu depan anak ditugaskan
untuk membuat naskah teks drama. Tahap ahirnya anak akan ditugaskan menampilkan
drama di panggung pegelaran di aula sekolahan, anak praktik sesuai dengan
perannya masing-masing.
A: Kenapa ibu dalam
pembelajaran drama tidak memberikan materinya terlebih dahulu?
B: Karena kalau hanya
mengawali dengan materi itu anak semakin jenuh dan juga menjadikan anak tidak
mandiri. Karena ia hanya mengandalkan materi dari gurunya tanpa mencari atau
memahami terlebih dahulu dan pembelajaran yang dipakai itu fleksibel tergantung
materi yang diajarkan. Karena bagi saya pembelajaran bahasa Indonesia itu hanya
pengulangan saja, paling yang membedakan itu semakin bertambahnya tingkat
pendidikan maka semakin luas dan mendalam materi terkait bahasa adan
strukturnya.
A: Bagaimana hasil
belajar dari penerapan model pembelajaran Contextual
Teaching and Learning dalam mata pelajaran drama?
B: Dari hasil belajar
tersebut menjadikan anak semakin mandiri dan anak mudah ingat pembelajaran yang
diajarkan oleh saya yang berkaitan dengan gaya atau pemeran tokoh sehingga
kemampuan untuk memahaminya lebih tinggi.
A: Apakah teks drama
yang dibuat oleh anak itu hasil karya anak sendiri atau mengambil dari
internet?
B: itu hasil tulisan
anak sendiri. Anak membuat teks naskah drama sendiri kemudian diperankan
sendiri sesuai dengan peran tokoh secara maksimal.
A: Bagaimana tema
pembuatan teks drama?
B: Temanya bebas, saya
tidak menentukan temanya. Karena saya tidak membatasi kemampuan atau ekspresi
yang dimiliki anak. Jadi terserah ketrampilan yang dimiliki anak.
A: Bagaimana sistem penilaian yang dilakukan?
B: Sistem penilaian
yang dilakukan itu terbagi menjadi dua, yaitu pembuatan naskahnya dan juga
praktik penampilan dramanya.
A: Apa saja yang
dinilai dari keduanya?
B: Kalau terkait
pembuatan teks itu dari struktur kebahasaannya sedangkan dalam praktik dramanya
itu ada dua penilaian. Pertama penilaian kelompok yang dinilai itu kekompakan
dan kedua itu penilaian individu yang dinilai ekspresi, penghayatan, dan juga
mimic dan kesesuaian teks dengan praktik.
A: Apakah ibunya
setelah anak tampil mengevaluasi terlebih dahulu?
B: Setelah anak selesai
tampil saya evaluasi dan memberi masukkan dulu terkait kekurangan dan
kelebihan. Siswa juga saya beri kesempatan untuk menilai temnanya sendiri. Agar
sebagai pembelajaran ke depannya semakin lebih baik lagi.
Lampiran
II
Gambar 1.1 Surat
Persetujuan Observasi
Gambar 1.2 Wawancara
Gambar 1.3 Gambar drama
Gambar 1.4 Gambar drama
Gambar 1.5 Gambar drama
Gambar 1.6 Gambar drama
Gambar 1.7 Gambar Papan Nama
Sekolahan
Comments
Post a Comment