PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN DRAMA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 KARTASURA


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
PADA MATA PELAJARAN DRAMA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 KARTASURA
Faridhatun Nikmah
163151033
Tadris Bahasa Indonesia Institut Agama Islam Negeri
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya penerapan strategi pembelajaran pada mata pelajaran Drama di SMAN 1 Kartasura. Strategi pembelajaran drama tidak hanya diajarkan secara tekstual, melainkan juga bisa diajarkan secara perfom atau praktik drama. Peranan guru dalam pembelajaran sangat menentukan keberhasilan proses belajar siswa. Guru memegang peran penting, karena guru harus mampu mengelola komponen-komponen pembelajaran. Oleh karena itu,  perlu adanya perbaikan strategi pembelajaran  untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi pelajaran drama melalui model pembelajaran Kontekstual. Pembelajaran ini mengajak siswa untuk mempraktikkan materi drama dalam bentuk pertunjukkan drama.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara, catat, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Kontekstual sangat mendorong kegiatan pembelajaran.
Kata Kunci: Kontekstual, keterampilan menulis, drama



LATAR BELAKANG
Salah satu komponen yang sangat penting dalam dunia pendidikan adalah guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Peran guru sangat besar dalam mengatur pelaksanaan pendidikan. Dalam dunia pendidikan guru berhadapan secara langsung dengan peserta didik. Karena tugas guru mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai positif melalui pengajaran dan bimbingan dalam membentuk perilaku peserta didik. Oleh karena itu, guru perlu metode dan model pembelajaran yang menarik. Agar peserta didik mengikuti dan mendukung strategi yang dibuat.  
Penggunaan model pembelajaran merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran mengarahkan peserta didiknya untuk selalu aktif di kelas. Karena kesuksesan dalam pembelajaran adalah dorongan dan keikutsertaan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran sehingga pembelajaran berjalan dengan lancar..
Menurut (Sufanti, 2012: 25) mengartikan strategi bermakna pendekatan, metode, teknik, taktik, cara, dan siasat. Istilah tersebut memiliki makna yang berbeda, tetapi semua istilah ini mengisyaratkan pada berbagai upaya dalam melaksanakan sesuatu, sedangkan pengajaran adalah proses, cara, dan perbuatan yang digunakan guru dalam berpartisipasi membangun pemahaman siswa dari berbagai sumber informasi. Zainal dan Ban Bakhri (Dan, 2008) menyatakan bahwa strategi pembelajaran diartikan sebagai pola umum kegiatan pengajaran dan peserta didik dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan adanya penerapan model pembelajaran di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kartasura. Pembelajaran Contextual Teaching and Learning adalah salah satu pembelajaran guna untuk meningkatkan siswa. Pembelajaran ini menekankan pada kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru. Rencana pembalajaran berisi tentang tahapan pembelajaran yang dikaitkan dengan topik materi. Menurut Ismawati (2011: 74) strategi pembelajaran adalah kegiatan, prosedur, langkah, metode, dan teknik yang dipilih untuk mempermudah anak untuk mencapai tujuan pembelajaran. Jadi tugas guru mampu memilih dan menciptakan strategi pembelajaran. Terciptanya pembelajaran efektif, efisien, dan menyenangkan bergantung pada guru, baik pribadi maupun situasi dan kondisi kelas.
Penelitian ini perlu dilakukan karena untuk mengetahui adanya penarapan model pembelajaran, salah satunya adalah Contextual Teaching and Learning. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu mengajak siswa untuk aktif di dalamnya. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa mudah ikut serta dalam proses belajar dan merasakan kenyamanan dalam pembelajaran. Guru harus mampu menciptakan model pembelajaaran menarik dan menagitkan materi pembelajaran dengan lingkungan sekitar.
Fenomena saat ini kalau kita ketahui kebanyakan dari seorang guru masih belum mampu menciptakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Oleh karena itu menghambat adanya proses belajar mengajar dan menjadikan siswa jenuh dengan pembelajaran. Tugas dari seorang guru tidak hanya mengajar saja, melainkan mampu menyusun kegiatan pembelajaran dengan sebaik mungkin. Guru dikatakan profesional jika sudah memenuhi kriteria yang ditentukan, jika salah satu kriteria tersebut belum dicapai berarti guru dikatakan masih belum profesional.
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai seperangkat cara, teknik yang ditempuh guru dalam mencapaikan materi pelajaran. Proses pembelajaran tidak terlepas dari strategi pengajaran. Keduanya memiliki ikatan yang kuat dalam mencapai tujuan pengajaran. Kegunaan strategi pembelajaran pada guru dijadikan sebagai pedoman dan landasan bertindak secara sistematis dalam proses pembelajaran, sedangkan bagi siswa dapat mempermudah proses pembelajaran dan memahami isi pembelajaran. Menurut (Suwarni, 2013) komponen pembelajaran Contextual Teaching and Learning terbagi menjadi tujuh, yaitu afektif, konstruktivisme, inquiri, bertanya, masyarakat belajar, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
Pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat ketrampilan, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Jadi keempat itu saling berkaitan antara menyimak dengan berbicara dan antara membaca dengan berbicara. Saat kita menyimak pasti kita bisa berbicara, begitupun juga semakin kita banyak membaca semakin mudah pula kita dalam menulis. Dalam hal ini peneliti menekankan pada keterampilan menulis. Keterampilan menulis adalah suatu daya untuk menciptakan tulisan. Menurut Suroso (2007: 37) keterampilan menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan adanya keterampilan menulis, seseorang dapat mengungkapkan ide, pikiran, perasaan melalui tulisan.  
Keterampilan menulis pada peserta didik masih dikatakan minim. Karena kebanyakan dari mereka tidak suka menulis. Mereka menganggap bahwa  keterampilan menulis adalah hal yang membosankan dan juga memerlukan waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu, keterampilan menulis sangat dihindari di kalangan anak-anak. Meskipun ada beberapa anak yang memiliki keterampilan menulis juga tidak memberikan pengaruh pada anak karena dalam keterampilan menulis didominasi oleh anak yang tidak memiliki keterampilan menulis.
Dalam pembelajaran drama kebanyakan guru lebih memilih memberikan materi secara terus menerus tanpa menyuruh anak untuk praktik secara langsung. Hal itulah yang menjadikan peserta didik hanya memahami teorinya saja dan tidak bisa mengaplikasikan secara langsung. Sehingga pengetahuan yang dimiliki anak masih sempit. Pembelajaran drama perlu adanya praktik karena jika hanya melulu pada materi menjadikan anak membayangkan dan mudah lupa. Tapi jika pembelajaran itu dilakukan secara praktik langsung membuat anak mudah mengingat dan menjadikan pembelajaran tidak monoton.

Alasan peneliti memilih judul “Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Pada Mata Pelajaran Drama di SMAN 1 Kartasura” untuk meneliti mata pelajaran drama yang dikaitkan dengan penerapan model pembelajaran Kontekstual di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kartasura. Dengan adanya penelitian ini penulis mampu menemukan data menarik dari hasil penelitian sehingga peneliti mampu memaparkan data yang dimiliki melalui jurnal ini.
Dalam penelitian sebelumnya memang sudah banyak yang meneliti model pembelajaran Contextual Teaching and Learning atau Kontekstual. Namun, dalam penelitian ini memiliki nilai kebaruan tersendiri. Kebaharuan pada peneliti ini lebih menekankan pada model pembelajaran kontekstual yang lebih menekankan mata pelajaran drama.
Kajian Pustaka
Dalam penelitian ini peneliti mengambil kajian pustaka (Suwarni, Dibia, & Renda, 2013: 3) Menurut CTL adalah salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan oleh The Washington State Consortium for Contextual Theaching adn Learning. CTL memiliki tujuh komponen utama yaitu (1) Konstruktivisme, (2) Inkuiri, (3) bertanya, (4) masyarakat belajar, (5) pemodelan, (6) refleksi, dan (7) penilaian yang sebenarnya. CTL disebut pendekatan kontekstual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu model pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2008: 225).
Menurut (Suprijono, 2009: 79) Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dalam masyarakat. Pembelajaran kontekstual merupakan proses pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat.
Selain itu, (Howey R, 2001: 45) mendefenisikan CTL sebagai berikut:: CTL adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar di mana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akdemiknya dalam berbagai konteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulatif ataupun nyata baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Dapat disimpulkan bahwa Model pembelajaran CTL (Contekstual Teaching Learning) merupakan metode pembelajaran yang bisa dikatakan efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang melibatkan siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 24 Mei 2018. Bertempat di SMA Negeri 1 Kartasura, Jalan Solo Yogya KM 11, Pucangan Kartasura. Subjek penelitian Subjek penelitian ini adalah kelas XI A SMA Negeri 1 Kartasura tahun 2017/2018 yang memiliki jumlah 35 siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pelaksanaan penelitian yang dilakukan dengan cara mengamati dan observasi. Tahap yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan pertunjukan drama secara langsung oleh anak XI A, pencatatan, dan penggalian informasi dari sumber peristiwa yang dikaji, pengumpulan data diperoleh melalui hasil wawancara dari salah satu guru yaitu bu Arining yang mengampu mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas XI, dokumentasi yang diambil dari penampilan anak saat pentas, wawancara, dan juga lampiran, dan terakhir analisis data. Peneliti mengaitkan data yang di dapat dengan referensi atau sumber data yang diperoleh melalui buku, jurnal, atikel, dan sebagainya. 
PEMBAHASAN
A.    Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Kontekstual (Sufanti, 2012) Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan konteks ke permasalahan konteks lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat (Johnson, 2009: 65) menyatakan bahwa CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah sistem yang menyeluruh. Adapun sistem CTL  memiliki delapan komponen yaitu: membuat kaeterkaitan pembelajaran yang diatur sendiri, bekerja sama, berpikir kritis, dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang mencapai standar yang tinggi. dan menggunakan penilaian autentik. Dengan demikian bahwa pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang dirancang agar siswa mampu mengaitkan apa yang dipelajari dengan konteks dalam kehidupan sehari=hari dengan berbagai strategi belajar yang bervariasi.
Pembelajaran memiliki karakteritik yang berbeda dengan pembelajaran lainnya. Karakteristik Pembelajaran Berbasis kontekstual adalah kerja sama, saling menunjang, tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber dan siswa aktif, sedangkan menurut (Muslich, 2009: 12) menyebutkan pembelajaran kontekstual mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.      Membelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksnakan dalam kehidupan ilmiah (learning in real life setting).
2.      Pembelajaran memberi kesempatan pada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaning full).
3.       Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing0.
4.      Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, dan saling mengoreksi (learning in group)
5.      Pembelajaran memberoikan kesempatan untuk menciptakan rasa keberjasamaan, kerja sama, saling memahami, dan mendalami (learning to know each other deeply)
6.      Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning ask, to inquiry, to work together).
7.      Pembelajaran dilaksanakan dalam sitasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).

Tujuh komponen pembelajaran kontekstual (a) constructivisme, (b) inquiry, (c) questioning, (d) learning community, (e) modelling, (f) reflection, (g) authentic assessment.
1.      Konstruktivisme (Constructivisme)
Komponen ini merupakan landasan filosofis CTL pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengonstruksi bukan menerima pengetahuan. Mengonstruksi berarti membangun pengetahuan melalui pemahaman baru berdasarkan pengetahuan awal. Hal ini sesuai dengan pendapat (Mansur Muslich, 2008: 44)  menyatakan bahwa pembelajaran konstruktivisme menekankan terbangunnya pemehaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dari pengalaman belajar yang bermakna. Pengetahuan bukanlah seranglkaian fakta, konsep, dan kaidah yang dipraktikkan, tetapi perlu dikonstruksi lebih dahulu dan diberi makna melalui pengalaman nyata. Oleh karena itu siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.
2.      Inkuiri (inquiry)
Inkuiri adalah kegiatan inti dari pembelajaran kontekstual yaitu menemukan. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri (Mansur Muslich, 2008: 45).  Berdasarkan pendapat tersebut, maka hasil penelitian pembelajaran siswa SMAN 1 Kartasura berupa pengetahuan, sikap, ketrampilan yang diperoleh sendiri melalui pembuatan teks drama dan ketrampilan untuk mementaskan drama secara totalitas. Dalam hal ini siswwa tidak hanya menghafal dan mengingat materi pembelajaran drama saja, tetapi praktik drama secara langsung sesuai peran tokoh.
3.      Bertanya (Question)
Bertanya merupakan strategi pembelajaran CTL. Belajar dipandang  sebagai upaya guru untuk mendorong siswa mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir. Memperoleh pengetahuan siswa bermula dari bertanya (Mansur Muslich, 2008: 44).
Berdasarkan hasil penelitian di SMAN 1Kartasura, selaku guru bahasa Indonesia yang dilakukan dalam proses pembelajaran drama guru sering bertanya kepada siswa, sebagai upaya untuk mendorong siswa dan berpikir mengetahui sesuatu sampai menemukan sesuatu. Misalnya saat pembelajaran berlangsung “Di sini ada yang tahu drama” atau “Siapa yang sudah pernah menonton drama” dalam hal ini siswa mulai merespon pertanyaan dari guru, sehingga pembelajaran tersebut melibatkan siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Karena dalam pembelajaran tidak hanya guru saja yang aktif melainkan juga siswanya harus aktif sehingga proses belajar mengajar tercapai.
4.      Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community)
 Konsep masyarakat belajara menyarankan bahwa hasil belajar diperoleh dari kerja sama dengan orang lain (Mansur Muslich, 2008: 46). Konsep ini menyarankan bahwa bekerja sama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri. Berdasarkan konsep ini pembelajaran dikemas dalam bentuk kelompok, diskusi, sehingga menjadikan antara kelompok untuk saling bekerja sama satu sama lain.
Berdasarkan hasil penelitian di SMAN 1 Kartasura menemukan bahwa pembelajaran drama dilakukan secara kelompok, (a) guru membagi beberapa kelompok, (b) setiap kelompok terdiri dari tujuh siswa, (c) setiap keloimpok membuat naskah teks drama dengan tema bebas, (d) naskah drama yang sudah dibuat dipentaskan. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa penerapan pembelajaran di SMAN 1 Surakarta juga menerapkan adanya konsep belajar masyarakat. dalam hal ini guru menginginkan agar siswa satu sama lain bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama dan menjadikan hubungan individu dalam sebuah kelas menjadi lebih harmonis.
5.      Pemodelan (Modelling)
Pemodelan menyarankan bahwa pembelajaran pengetahuan, sikap, maupun ketrampilan perlu menghadirkan model yang perlu ditiru, model yang dimaksud berupa pemberian contoh (Muslich, 2008: 46). Pemberian contoh yang dimaksud bisa berupa menunjukkan hasil karya, mengoperasikan sesuatu, mempertontonkan penampilan, atau menunjukkan peristiwa yang bersangkutan dengan pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian di SMAN 1 Kartasura ditemukan adanya pembelajaran drama. (a) guru menampilkan pertunjukkan drama, (b) guru memberikan tugas pada anak untuk membuat naskah teks drama dengan tema bebas, (c) guru memberikan tugas naskah teks drama yang sudah dibuat untuk dipentaskan sesuai dengan peran tokoh masing-masing. Dalam hal ini dikatakan bahwa model pembelajaran yang dipakai seorang guru lebih mengarah pada Student Center sehingga menjadikan siswa untuk aktif dan mengembangkan bakat atau ketrampilan yang dimiliki.
Kehadiran model pembelajaran yang diciptakan guru di kelas akan mengurangi kesalah pahaman dalam pengetahuan yang hanya bersifat verbalistik.

6.      Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan kegiatan perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari (Muslich, 2008) (Muslich, 2008: 46). Perenungan dilakukan dengan memikirkan kembali apa yang baru saja dipelajari, menelaah dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan. Dengan kegiatan ini siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru saja diperolehnya merupakan pengayaan, atau revisi dari pengetahuan yang dimiliki selama ini. kesadaran seperti ini harus ditanamkan kepada siswa agar memiliki sifat terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan menyadari bahwa kebenaran pengetahuan bersifat relatif.

7.      Penilaian Autentik (Autentik Assesment)
Penilaian autentik adalah proses pengumpulan berbagai data pengalaman siswa. (Muslich, 2008: 47). Gambaran perkembangan pengalaman siswa perlu diketahui oleh guru untuk mengetahui benar tidaknya proses  belajar siswa. Dengan demikian, penilaian autentik harus mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan pada pengamatan, analisis data, dan penafsiran data ketika observasi. Penilaian autentik bukan menghakimi siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan pengalaman belajar siswa. Penilaian ini dilakukan secara komprehensif dan seimbang antara penilaian hasil dengan penilaian proses. Guru hendaknya menjadi penilaian konstruktif yang dapat merefleksikan bagaimana siswa belajar, bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai konteks, dan bagaimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks belajar.

B.     Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis merupakan suatu bentuk ketrampilan bahasa menyusun kata-kata dalam bentuk tulisan. Kemampuan ini adalah kemampuan yang paling sulit untuk dikuasai. Karena keterampilan ini membutuhkan waktu yang panjang. Jika kita tidak memiliki ide untuk dituliskan maka kita tidak bisa menulis, kemampuan menulis sangat berkaitan dengan kemampuan membaca. Semakin banyak buku yang dibaca maka semakin mudah kita menulis. Jadi kemampuan membaca sangat mempengaruhi ketrampilan untuk menulis.
Menurut (Suwarni, 2013: 6) keterampilan menulis adalah salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekpresikan gagasan atau pendapat, pemikiran,dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis. Keterampilan menulis sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari sedangkan Menurut (Suroso, 2007: 37) kecakapan menulis merupakan salah satu aspek kecakapan berbahasa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan kecakapan menulis, seseorang dapat mengungkapkan ide, pikiran, persasaan, dan kecakapannya kepada orang lain melalui tulisan.

Menurut (Tarigan, 2008: 3) fungsi  dari keterampilan menulis adalah sebagai alat komunikasi secara tidak langsung, karena ketrampilan ini tidak dilakukan dengan tatap muka. Ketrampilan ini hanya membutuhkan pikiran dan kekreativitasan. Dalam kegiatan ini penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa dan kosa kata yang harus diperhatikan. Dalam penelitian ini lebih menekankan pada ketrampilan menulis naskah drama.
Menurut (Widayaningtyas, 2016: 74) Aktivitas belajar bahasa Indonesia materi menulis naskah drama meliputi membaca, mendengarkan uraian, mengeluarkan pendapat, diskusi, menganalisis, menulis naskah, menaruh minat, gembira, dan berani. Kata-kata tersebut dikelompokkan pada penilaian diskusi, kerja sama, dan keaktivan. Oleh karena aktivitas sebelum tampil pentas drama harus punya teks naskah drama terlebih dahulu. Karena teks drama sebagai pedoman atau landasan pentas secara langsung.
Proses menulis dilakukan dengan merangkai kata menjadi kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf, menyusun paragraf menjadi kalimat kompleks yang mengusung pokok persoalan. Pokok persoalan di dalam tulisan disebut gagasan atau pikiran. Gagasan tersebut menjadi dasar bagi berkembangnya tulisan. Saat kita menulis itu berdasarkan pengalaman, ide, gagasan, dan pendapat. Jadi menulis membutuhkan waktu yang lama. Jika kita tidak suka membaca maka kita akan kesusahan untuk menulis.
Hasil penelitian yang ditemukan dalam keterampilan menulis di SMAN 1 Kartasura adalah guru lebih menyuruh siswanya untuk menulis teks naskah drama dalam bentuk kelompok dengan tema bebas dalam jangka waktu satu minggu. Jadi dalam kurun waktu seminggu itu anak harus menyusun teks drama yang dipilih. Dalam satu minggu mengecek hasil kerjaan anak sekaligus memberi masukan.
C.     Drama
Menurut (Gani, 1988: 262) menjelaskan bahwa drama adalah komposisi literer yang menyampaikan sebuah cerita, mengenai konflik kemanusiaan, dengan menggunakan dialog dan gerak sebagai alat dan dalam bentuk pentas. Selanjutnya dijelaskan drama merupakan betuk yang paling konkrit yang secara artistik dapat menciptakan kembali situasi kemanusiaan dan hubungan kemanusiaan sedangkan menurut (Hasanuddin, 2009: 229) kata drama berasal dari bahasa Yunani to dran yang maknanya adalah berbuat. Pengertian drama adalah: (1) karya tulis untuk teater; (2) setiap situasi yang mempunyai konflik dan penyelesaian cerita (resolution); (3) jenis sastra berbentuk dialog, yang biasa untuk dipertunjukkan di atas pentas. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa drama adalah suatu genre (jenis) sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai suatu seni pertunjukan.
Drama dalam penciptaannya dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik, seperti kreativitas pengarang, dan realitas objektif (kenyataan semesta). Dari dalam karya itu sendiri cerita dibentuk dari unsur- unsur penokohan, alur, latar, konflik, tema, dan amanat, serta aspek gaya bahasa. Drama dalam konteks seni pertunjukan dibentuk dan dibangun oleh unsur-unsur yang menyebabkan suatu pertunjukkan dapat terlaksana.
Menurut (Yurnelis, 2013: 30) Fungsi dari drama yaitu pertama sebagai wadah bagi pengarang untuk menyampaikan informasi, menjelaskan fakta, atau ide-ide utama. Kedua gambaran tentang watak, sifat atau perasaan masing-masing tokoh. Ketiga, melukiskan suasana. Keempat, sebagai pengungkapan tema.
Dalam penelitian di kelas XI A ditemukan pembelajaran yang dilakukan pada mata pelajaran bahasa Indonesia yaitu drama, output dari pembelajarannya adalah pentasdrama. Jadi semua anak menampilkan drama yang sudah dibuat sesuai dengan penyusunan naskah teks drama yang dilakukan. Setiap kelompok terdiri dari 6-7 anggota dan masing-masing memerankan perannya sesuai tema yang dipilih oleh kelompok. Penilaiannya dengan memperhatikan ekspresi, mimik, wajah, penghayatan,vocal, intonasi, dan sebagainya. Setelah pentas anak diberi kesempatan untuk menilai dari pementasan. Kemudian guru mengevaluasi penampilan anak dan memberikan masukan, agar ke depannya bisamenjadi pembelajaran anak.

KESIMPULAN
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, sehingga mendorong siswa untuk selalu aktif dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran kontekstual terbagi menjadi tujuh komponen pembelajaran, yaitu constructivisme, inquiry, questioning, learning community, modelling, reflection, authentic assessment.
Ketrampilan menulis adalah suatu kecakapan yang lebih condong dalam dunia kepenulisan. Fungsi  dari keterampilan menulis adalah sebagai alat komunikasi secara tidak langsung karena ketrampilan ini tidak dilakukan dengan tatap muka. Dalam keterampilan menulis hanya membutuhkan pikiran dan kreativitas. Dalam kegiatan ini penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa dan kosa kata yang harus diperhatikan.
Drama adalah suatu cerita atau kisah yang melibatkan konflik atau emosi secara langsung dan dipertunjukkan di depan umum. Fungsi dari drama adalah sebagai hiburan, kedua, sebagai wadah bagi pengarang untuk menyampaikan informasi, ketiga melukiskan suasana. Keempat, sebagai pengungkapan tema. Drama tidak hanya dijadikan sebagai pertontonan saja melainkan dalam dram juga terdapat amanat yang dapat kita ambil dari sebuah cerita yang dimainkan.


DAFTAR PUSTAKA
Dan,  iskandar W. dan D. S. (2008). No Title. In Strategi Pembelajaran Bahasa.
Gani, R. (1988). No Title. In Pengajaran Sastra Indonesia. Respons dan Analisis. Padang: Dian Dinamika Press.
Hasanuddin, W. (2009). No Title. In Drama: Karya Dalam Dua Dimensi. Bandung: Angkasa Madya.
Howey R, K. (2001). No Title. In Distance Teaching for Hight and Adult Education (London). Croon Helm.
Johnson, E. B. (2009). No Title. In Contextual Traching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung: Mizan Media Utama.
Mansur Muslich. (2008). No Title. In KTSP, Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Muslich, M. (2009). No Title. In KTSP, Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, W. (2008). No Title. In Strategi Pembelajaran. Bandung: Kencana Prenada Media Group.
Sufanti. (2012). No Title. In Strategi Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (2nd ed.). Surakarta: Yuma Pustaka.
Suprijono, A. (2009). No Title. In Cooperayif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suroso. (2007). No Title. In Penelitian Tindakan Kelas Kemampuan Menulis Melalui Classroom Action Research.
Suwarni, K., Dibia, K., & Renda, N. T. (2013). Penerapan Ctl untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Menulis Puisi Kelas Iii Sd N 1 Labasari Kecamatan Abang, 5.
Tarigan, H. G. (2008). N. In Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Widayaningtyas, W. (2016). Pembelajaarn CIRC Teknik Periklabalado untuk Meningkatkan Keterampilan dan Aktivitas Belajar Menulis Naskah Drama Siswa Kelas XI IPA 1 Kramat. Penelitian Dan Wacana Pendidikan, 10(1), 68–84.
Yurnelis, Husanuddin WS, E. (2013). Peningkatan Keterampilan Menulis Naskah Drama Melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Siswa Kelas VIII-1 SMP N 12 Padang. Bahasa, Sastra Dan Pembelajaran, 1(2).




Lampiran 1

Transkip Wawancara
A: Apakah SMAN 1 Kartasura sudah menerapkan pembelajaran Contextual Teaching and Learning dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia?
B: SMAN 1 Kartasura sudah menerapkan adanya pembelajaran Contextual Teaching and Learning?
A: Bagaimana sistem penerapan Contextual Teaching and Learning di SMAN 1 Kartasura?
B: Penerapannya adalah tergantung dari materi yang diajarkan, kalau ini kan materinya tentang drama. Jadi yang saya terapkan dalam pembelajarannya adalah anak saya perlihatkan video di LCD terkait drama. Setelah itu anak saya bagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari tujuh anak. Setelah itu minggu depan anak ditugaskan untuk membuat naskah teks drama. Tahap ahirnya anak akan ditugaskan menampilkan drama di panggung pegelaran di aula sekolahan, anak praktik sesuai dengan perannya masing-masing.
A: Kenapa ibu dalam pembelajaran drama tidak memberikan materinya terlebih dahulu?
B: Karena kalau hanya mengawali dengan materi itu anak semakin jenuh dan juga menjadikan anak tidak mandiri. Karena ia hanya mengandalkan materi dari gurunya tanpa mencari atau memahami terlebih dahulu dan pembelajaran yang dipakai itu fleksibel tergantung materi yang diajarkan. Karena bagi saya pembelajaran bahasa Indonesia itu hanya pengulangan saja, paling yang membedakan itu semakin bertambahnya tingkat pendidikan maka semakin luas dan mendalam materi terkait bahasa adan strukturnya. 
A: Bagaimana hasil belajar dari penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dalam mata pelajaran drama?
B: Dari hasil belajar tersebut menjadikan anak semakin mandiri dan anak mudah ingat pembelajaran yang diajarkan oleh saya yang berkaitan dengan gaya atau pemeran tokoh sehingga kemampuan untuk memahaminya lebih tinggi.
A: Apakah teks drama yang dibuat oleh anak itu hasil karya anak sendiri atau mengambil dari internet?
B: itu hasil tulisan anak sendiri. Anak membuat teks naskah drama sendiri kemudian diperankan sendiri sesuai dengan peran tokoh secara maksimal.
A: Bagaimana tema pembuatan teks drama?
B: Temanya bebas, saya tidak menentukan temanya. Karena saya tidak membatasi kemampuan atau ekspresi yang dimiliki anak. Jadi terserah ketrampilan yang dimiliki anak.
A:  Bagaimana sistem penilaian yang dilakukan?
B: Sistem penilaian yang dilakukan itu terbagi menjadi dua, yaitu pembuatan naskahnya dan juga praktik penampilan dramanya.
A: Apa saja yang dinilai dari keduanya?
B: Kalau terkait pembuatan teks itu dari struktur kebahasaannya sedangkan dalam praktik dramanya itu ada dua penilaian. Pertama penilaian kelompok yang dinilai itu kekompakan dan kedua itu penilaian individu yang dinilai ekspresi, penghayatan, dan juga mimic dan kesesuaian teks dengan praktik.
A: Apakah ibunya setelah anak tampil mengevaluasi terlebih dahulu?
B: Setelah anak selesai tampil saya evaluasi dan memberi masukkan dulu terkait kekurangan dan kelebihan. Siswa juga saya beri kesempatan untuk menilai temnanya sendiri. Agar sebagai pembelajaran ke depannya semakin lebih baik lagi.
Lampiran II
Gambar 1.1 Surat Persetujuan Observasi

Gambar 1.2 Wawancara
Gambar 1.3 Gambar drama
Gambar 1.4 Gambar drama

Gambar 1.5 Gambar drama

Gambar 1.6 Gambar drama

Gambar 1.7 Gambar Papan Nama Sekolahan



Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy

Menemukan Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Drama Cipoa Karya Putu Wijaya

KESALAHAN EJAAN DAN PENULISAN BAHASA INDONESIA Se-Solo Raya