Psikologi, Psikologi Islam, Teori Psikologi Islam dan Barat, Pendekatan Psikologis Dalam Studi Islam
MAKALAH
Psikologi, Psikologi Islam, Teori
Psikologi Islam dan Barat, Pendekatan
Psikologis Dalam Studi Islam
Disusun
untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metodologi Studi Islam
Dosen
Pengampu: Ahmad Muzakkil Anam, M.Pd.I.

Disusun
Oleh:
1.
Miftachaturrohmatil
Wachidah 153151011
2.
Faridhatun
Nikmah 163151033
3.
Siti Khotijah 163151036
TADRIS
BAHASA INDONESIA
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGRI SURAKARTA
SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Agama
adalah suatu keyakinan yang berasal dari Allah yang diberikan kepada manusia.
Agama Islam dalam istilah arab disebut Dinul
Islam. Islam merupakan agama yang dibawa oleh nabi Muhamad SAW sebagai
hidayah dan rahmat Allah untuk diberikan kepada seluruh manusia. Dalam diri
manusia terdapat adanya psikologi. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang kejiwaan yang timbul dalam diri manusia melalui perasaan, pancaindra,
dan kehendak. Jadi tanpa kita sadari, saat kita melakukan sesuatu dipengaruhi
adanya unsur psikologi. Dalam konsep psikologi terbagi menjadi empat, yaitu
naluri, keperluan, desakan, dan motivasi.
Kebanyakaan saat ini seseorang sering terganggu
psikologinya. Hal tersebut dipengaruhi jiwa seseorang yang tertekan karena
adanya masalah tertentu sehingga psikologinya pun terganggu. Dalam hal ini
psikologi Islam hadir untuk menyeimbangkan unsur kejiwaan seseorang kemudian
dikaitkan dengan agama Islam, kita sering menamainya psikologi islam. psikologi
Islam adalah kajian islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku
kejiwaan manusia. Tujuannya untuk dapat membentuk kualitas diri yang lebih
sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Teori psikologi Islam berasaskan kepada Al-Qur’an
dan As-Sunnah. al-Ghazali membahas empat unsur utama struktur manusia yang
berbentuk tingkah lakunya, yaitu al-qalb,
al-ruh, al-aql, dan al-nafs. Teori psikologi barat, di antaranya
psikoanalisis, behaviorisme, humanistik, dan transpersonal. Jadi teori
psikologi Islam dan Barat hampir sama dan saling berkaitan antara satu dengan
yang lainnya. [1]
Dalam
psikologi studi islam terdapat adanya
tiga pendekatan, yaitu struktural, fungsional, dan psikonalisis. Pendekatan
psikologis bertujuan untuk menjelaskan fenomena keberagamaan manusia yang
dijelaskan dengan mengurai keadaan jiwa manusia. Adanya psikologi Islam
memberikan dampak baik pada jiwa manusia.
Berdasarkan
latar belakang di atas, makalah ini dibuat untuk membahas lebih jauh tentang
pemahaman psikologi, psikologi islam, teori psikologi Islam dan Barat, dan
pendekatan pada psikologi.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian psikologi dan
perkembangannya?
2. Apa yang dimaksud psikologi dalam
Islam?
3. Apa yang dimaksud teori psikologi
Islam dan Barat?
4. Apa yang dimaksud pendekatan
psikologi dalam Islam?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian
psikologi dan perkembangannya.
2. Untuk mengrtahui psikologi dalam
Islam.
3. Untuk mengetahui teori psikologi
Islam dan Barat.
4. Untuk mengetahui bentuk pendekatan
psikologi Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche dan logos. Psyche berarti
jiwa sedangkan logos berarti ilmu.[2] Secara
bahasa psikologi merupakan ilmu yang mempelajari sesuatu bersifat abstrak yaitu
jiwa.
Menurut
ahli psikologi mendefinisikan pengertian psikologi adalah kajian ilmu tentang
tingkah laku dan aktivitas manusia. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang
menyelidiki pengalaman yang timbul dalam diri manusia seperti perasaan, pancaindra,
pikiran, dan kehendak.[3]
Dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang kejiwaan yang timbul dalam diri manusia melalui perasaan,
pancaindra, dan kehendak.
Psikologi
terbagi menjadi 2 yaitu psikologi umum yang mengkaji perilaku umum. Kedua
mengkaji psikologi khusus mengkaji perilaku individu atau khusus.[4]
Psikologi khusus sebagai berikut:
1. Psikologi
perkembangan, kajian tentang perilaku individu dalam proses perkembangan, mulai
dari konseptual sampai dengan akhir hayat.
2. Psikologi
kepribadian, kajian tentang perilaku individu yang dilihat dari berbagai aspek
kepribadian.
3. Psikologi
klinis, kajian tentang perilaku individu untuk keperluan penyembuhan.
4. Psikologi
abnormal, kajian tentang perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia
industri.
5. Psikologi
pendidikan, kajian tentang perilaku individu dalam situasi pendidikan.
6. Psikologi
Islam, kajian tentang perilaku manusia dilihat dari perspektif ajaran rohani
islam.
Ada
empat konsep asas dalam psikologi yaitu naluri, keperluan, desakan, dan
motivasi.[5]
Naluri adalah tingkah laku yang diwariskan berupa dorongan individu yang
bertindak dengan cara tertentu. Keperluan adalah keinginan memunuhi kekurangan
individu dari aspek fisiologi dan psikologi. Desakan adalah tindakan atau
perubahan tingkah laku akibat adanya keperluan fisiologis yang tidak terpenuhi.
Motivasi merupakan perangsang yang mengakibatkan minat individu ke arah
pencapaian perubahan sikap, minat, dan tingkah laku yang diwujudkan adanya
keperluan fisiologis atau psikologis.
B.
Psikologi
Islam
Psikologi Islam menurut adalah kajian ilmiah
terhadap jiwa atau rohaniah manusia dalam perspektif ajaran islam. [6]Nilai-nilai
Islam menjadi tolak ukur gambaran
kejiwaan manusia yang diamati melalui berbagai tingkah laku.
Secara akademik, psikologi Islam dapat diartikan
sebagai citra manusia menurut ajaran islam untuk memperoleh pola keunikan dan
perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri,
lingkungan sekitar, dan alam kerohanian dengan tujuan mengembangkan kesehatan
mental dan meningkatkan kualitas keberagaman.
Hakikat psikologi Islam adalah kajian Islam yang berhubungan
dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat
membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup
di dunia dan akhirat.[7] Hakikat
definisi tersebut mengandung tiga unsur pokok, pertama bahwa psikologi islam
merupakan salah satu dari kajian masalah-masalah keislaman. Ia memiliki
kedudukan yang sama dengan disiplin ilmu keislaman yang lain, seperti ekonomi Islam,
sosiologi islam, dan sebagainya. Penempatan kata Islam di sini memiliki arti
cara pandang, corak, pola pikir, dan paradigma. Artinya psikologi dibangun
bercorak pada tradisi keilmuan dalam Islam. Kedua, bahwa psikologi Islam
mempelajari aspek dan perilaku kejiwaan manusia. Ketiga psikologi islam adalah
syarat nilai etik. Psikologi Islam memiliki tujuan hakiki yang
mampu merangsang kesadaran diri agar mampu membentuk kualitas ysng lebih
sempurna untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[8]
C.
Teori Psikologi Islam dan Barat
Teori adalah anggapan kebenaran yang
kuat dan dibina di atas data yang cukup sehingga sesuatu perkara dapat
dijelaskan secara logika. Teori psikologi Islam berasaskan kepada Al-Qur’an dan
As-Sunnah, karena teori ini didapat dari data-data ajaran Islam yang
berlandaskan kepada Al-Qur’an dan al-sunnah. data dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan
kajian empirik tersebut terbentuklah satu teori. Contohnya saja teori tingkah
laku oleh al-Ghazali dan teori kebahagiaan jiwa.[9]
Dalam teorinya tentang tingkah laku,
ahli psikologi Islam seperti al-Ghazali membahas empat unsur utama struktur
manusia yang berbentuk tingkah lakunya, yaitu al-qalb, al-ruh, al-aql, dan al-nafs. Al-qalb dapat disebut dengan
hati nurani yang ada pada manusia. Al-ruh
adalah ruh jasmani yang halus dan tidak nampak oleh penglihatan. Al-aql adalah akal jasmani atau sifat
ilmu yang bertempat pada hati dan akal manusia. Al- Ghazali menghubungkan al-nafs (jiwa) dengan tabiat manusia
seperti marah dan syahwat yang terdapat
dalam diri manusia.
Ibn Miskawaih menjelaskan teori
kebahagiaan jiwa pula, menyatakan untuk mencapai kebahagiaan jiwa, terbagi
kepada empat yaitu kebijaksanaan (al-hikmat),
kemuliaan (al-‘iffat), keberanian (al-syaja’at), dan keadilan (al-‘adalat). Oleh karena itu, seseorang
tidak boleh berbangga diri dan merasa sempurna, kecuali dia memiliki keempat
keutamaan ini.
Teori yang telah dipaparkan di atas menunjukkan
bahwa ahli psikologi Al-Ghazali dan Ibn Miskawaih, dalam membentuk teori ini
berlandaskan dalil-dalil naqli (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dengan data-data
empirikal. Ada beberapa teori psikologi barat, diantaranya psikoanalisis,
behaviorisme, humanistik, dan transpersonal.[10]
1. Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan suatu aliran
psikologi yang dipelopori oleh Sigmund Freud. Aliran ini memandang bahwa
manusia adalah makhluk yang hidup atas bekerjanya dorongan-dorongan libido (id) dan memandang manusia sangat ditentukan oleh masa lalunya.
Kritik atas Freud dan para pengembang teorinya dikarenakan adanya
penyederhanaan terhadap kekuatan dorongan (kekuatan libido atau dorongan seksual) sehingga menutupi kemungkinan adanya
kekuatan lain yang dapat menggerakkan manusia untuk berpikir dan bertindak.
Karena pada dasarnya, manusia adalah wujud makhluk yang sangat kompleks dan
memiliki banyak dimensi kebutuhan untuk mengisi kehidupannya sehingga menjadi
rumit pula untuk direka sumber dari pemikiran-pemikiran serta tindakannya.
Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak
lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah
dan primitif. Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk
menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan
bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia
nyata. Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego.
superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi
moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat. Menurut Freud, kunci kepribadian yang
sehat adalah keseimbangan antara id, ego, dan superego.
Kritik lainnya adalah tentang
bagaimana Freud menggambarkan manusia sebagai wujud makhluk yang begitu pesimis
untuk dapat keluar dari belenggu impulsnya dalam ketidakberdayaan melawan
libidonya. Seolah tidak ada potensi, misalnya berupa akal, kata hati atau
nurani dan keyakinan akan dukungan kekuatan supranatural berupa iman dan takwa
kepada Tuhannya, yang dapat dikembangkan oleh dirinya sendiri untuk melawan hal
yang instingtif itu. Dengan demikian, manusia tidak berbeda dengan hewan yang
bergerak hanya atas dasar instingnya saja.
2. Behaviorisme
Behaviorisme merupakan aliran
psikologi yang dimotori oleh John Broadus Watson. Aliran ini berpandangan bahwa
pada dasarnya ketika dilahirkan, manusia tidak membawa bakat apa-apa dan bahwa
manusia semata-mata melakukan respon atau tanggapan terhadap suatu rangsangan.
Pandangan seperti ini akan memberi penekanan yang sangat besar pada aspek stimulasi lingkungan untuk
mengembangkan manusia dan kurang menghargai faktor bakat atau potensi alami
manusia. Aliran ini memandang manusia secara pukul rata, padahal potensi
individual manusia beragam. Pandangan ini beranggapan bahwa apa pun jadinya
seseorang, maka satu-satunya yang menentukan adalah faktor lingkungan.
3. Humanistik
Humanistik merupakan suatu aliran
psikologi yang dipelopori oleh Abraham Maslow. Aliran ini berpandangan bahwa
pada dasarnya manusia adalah baik dan manusia memiliki potensi yang tidak
terbatas. Pandangan ini bersikap optimis dan bahkan terlampau optimis terhadap
upaya pengembangan sumber daya manusia, sehingga manusia dipandang sebagai
penentu tunggal yang mampu melakukan play
God (peran Tuhan). Hal itu terjadi karena tinggginya kepercayaan terhadap
manusia, maka memungkinkan munculnya sikap membiarkan terhadap perilaku apa pun
yang dilakukan orang lain.
4. Transpersonal
Psikologi transpersonal adalah cabang
psikologi yang memberi perhatian pada studi terhadap keadaan dan proses
pengalaman manusia yang lebih dalam dan luas, atau suatu sensasi yang lebih
besar dari koneksitas terhadap orang lain dan alam semesta, atau merupakan
dimensi spiritual.[11]
D. Pendekatan
Psikologis Dalam Studi Islam
Psikologis merupakan pendekatan yang bertujuan
untuk melihat keadaan jiwa pribadi-pribadi yang beragama.[12]
Dalam pendekatan ini, yang menarik bagi peneliti adalah keadaan jiwa manusia
dalam hubungannya dengan agama, baik pengaruh maupun akibat. Lebih lanjut,
bahwa pendekatan psikologis bertujuan untuk menjelaskan fenomena keberagamaan
manusia yang dijelaskan dengan mengurai keadaan jiwa manusia.[13]
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, ada beberapa pendekatan dalam psikologis
studi islam yang dapat diterapkan antara lain:
1. Pendekatan struktural
Pendekatan ini dipakai oleh Wilhelm
Wundt. Struktur artinya sebuah bangunan yang terdiri atas berbagain unsur yang
satu sama lainnya berkaitan. Setiap perubahan yang terjadi pada sebuah unsure
struktur akan mengakibatkan perubahan hubungan antar unsure tersebut. Jadi,
hubungan antar unsure akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau
hilang.
Teori ini menyatakan bahwa pengalaman
mental yang kompleks itu sebenarnya adalah “struktur” yang terdiri atas keadaan
mental -mental yang sederhana. Mereka bekerja atas dasar premis bahwa bidang
usaha psikologi itu terutama adalah menyelidiki “struktur” kesadaran dan
mengembangkan hukum-hukum pembentukannya. Pendekatan mereka yang utama adalah
dengan analisis instropektif. Aliran ini berpendapat bahwa untuk mempelajari
kejiwaan, kita harus mempejari isi dan struktur kejiwaan dengan menggunakan
metode instropeksi atau mawas diri, yaitu orang yang menjalani percobaan
diminta untuk menceritakan kembali pengalamannya atau perasaannya setelah ia
melakukan suatu eksperimen.
Pendekan struktural dalam studi
Islam ini khususnya dalam pendekatan psikologi adalah sebuah upaya untuk
memahami Islam sebagai sebuah agama yang merupakan akumulasi dari sekian banyak
unsur dan dimensi yang terjalin menjadi satu membentuk konstruksi atau bangunan
Islam itu sendiri yang mencerminkan sisi psikologis dalam Islam. Ini karena
bagaimanapun Islam dalam dirinya merupakan sebuah bangunan yang masing-masing
bagiannya mempunyai peran serta posisi tertentu clan menemukan maknanya ketika
tidak terlepas dari unsur atau bagiannya yang lain.
Pendekatan struktural
ini juga akan
semakin menemukan urgensinya
ketika dicoba untuk meneropong islam dalam realitas dan praktek keberagamaan
umatnya. Dalam realitas kehidupan
umat, sering ditemukan
adanya benturan -benturan ideologis dan kepentingan dari
umat Islam itu
sendiri. Padahal Islam
yang dianut adalah satu
yaitu agama atau
ajaran ilahi yang
disampaikan melalui personal Nabi
Muhammad SAW. Karena banyaknya kepentingan dan perbedaan penekanan
dalam memahami Islam,
tidak jarang dalam praktek umatnya,
Islam muncul sebagai
sesuatu yang terpisah -pisah sehingga Islam terkesan
parsial. Terlebih lagi dengan sering munculnya klaim- klaim kebenaran subjektif
dari orang-orang yang berbeda dalam memahami Islam membawa kepada perpecahan
Berta sekian banyak implikasi negatif lainnya.
2. Pendekatan Fungsional
Pendekatan
ini pertama digunakan oleh William James (1910 M) ia adalah penemu laboratorium
psikologi pertama di Amerika pada Universitas Harward. Pendekatan Fungsional
adalah pendekatan yang dilakukan untuk mempelajari bagaimana agama dapat
berfungsi atau berpengaruh terhadap tingkah laku hidup individual dalam
kehidupannya.
Pendekatan
fungsional ini lebih menekankan pada apa tujuan dan fungsi dari pengalaman
mental untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar. Fungsionalisme
adalah suatu tendensi dalam psikologi yang menyatakan bahwa pikiran, proses,
mental, persepsi indrawi dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Sebagai
suatu jenis psikologi yang menggarisbawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya
fakta-fakta dari fenomena mental.
Pendekatan ini dilakukan untuk
mempelajari bagaimana agama dapat berpengaruh pada tingkah laku individu di
dalam kehidupannya. Norma-norma yang sudah diatur dalam agama, akan menjadi
suatu kewajiban yang harus dilaksanakan, sehingga akan tercermin dari
perilakunya.
3. Pendekatan Psikonalisis
Pendekatan Psikoanalisis adalah sebuah usaha atau cara mendekati melalui
model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode
psikoterapi. Secara historis psikoanalisis adalah aliran pertama dari tiga
aliran utama psikologi. Yang kedua adalah behaviorisme, sedangkan yang ketiga
atau disebut juga kekuatan ketiga adalah psikologi eksistensial-humanistik.
Pendekatan ini pertama kali dilakukan oleh Sigmung Freud (1856-1939). Penting
untuk diingat bahwa Freud adalah pencipta pendekatan psikodinamika terhadap
psikologi, yang memberikan pandangan baru kepada psikologi dan menemukan
cakrawala-cakrawala baru. Misalnya, membangkitkan minat terhadap motivasi
tingkah laku. Freud juga mengundang banyak kontroversi, eksplorasi, penelitian,
dan menyajikan landasan tempat bertumpu sistem-sistem yang muncul kemudian.
Psikologi Islam memandang teori
psikoanalisis terlalu menyederhanakan kompleksitas manusia. Teori ini hanya
berdasarkan fisiologis tanpa menyelaraskan dengan kebutuhan spiritual. Dalam
struktur kepribadian yang dikembangkan Freud jika dikomparasi secara psikologi
Islam seperti yang diungkapkan Imam Ghazali, yaitu nafsu, akal, dan qalbu. Nafsu diakumulasikan dorongan
untuk bertindak yang sudah di intregasikan melalui olah akal, sentuhan rohani
dengan berlandaskan agama dan moral. Tidak semua konsepsi pendekatan
psikoanalisis dipahami tidak cocok dari sudut pandang psikologi Islam.
Setidaknya psikilogi Islam sepakat dengan pemahaman psikoanalisis bahwa manusia
mempunyai potensi dalam dirinya untuk diaktualisasikan. Penggunaan pendekatan
ini sangat penting dalam pendekatan psikogis Islam dikarenakan pendekatan
psikoanalisis ini dilakukan untuk menjelaskan tentang pengaruh agama dalam
kepribadian seseorang dan hubungannya dengan penyakit-penyakit jiwa.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Psikologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan yang timbul dalam diri manusia
melalui perasaan, pancaindra, dan kehendak. Psikologi terbagi menjadi 2 yaitu
psikologi umum yang mengkaji perilaku umum. Kedua mengkaji psikologi khusus
mengkaji perilaku individu atau khusus. Konsep psikologi terbagi menjadi empat,
yaitu naluri, keperluan, desakan, dan motivasi.
psikologi islam dapat diartikan sebagai citra
manusia menurut ajaran islam untuk memperoleh pola keunikan dan perilaku
manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan
sekitar, dan alam kerohanian dengan tujuan mengembangkan kesehatan mental dan
meningkatkan kualitas keberagaman. Teori psikologi Islam membagi empat unsur
utama struktur manusia yang berbentuk tingkah lakunya, yaitu al-qalb, al-ruh, al-aql, dan al-nafs sedangkan
di Barat juga terbagi menjadi empat,
yaitu psikoanalisis, behaviorisme, humanistik, dan transpersonal. Jadi
teori psikologi Islam dan Barat hampir sama dan saling berkaitan antara satu
dengan yang lainnya.
Dalam
psikologi studi islam terdapat adanya
tiga pendekatan, yaitu struktural, fungsional, dan psikonalisis. Pendekatan
psikologis bertujuan untuk menjelaskan fenomena keberagamaan manusia yang
dijelaskan dengan mengurai keadaan jiwa manusia. Adanya psikologi Islam
memberikan dampak baik pada jiwa manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Hambali,
A. 2015. Psikologi Islam. Bandung:
Pustaka Setia.
Mudzakir,
A. M. 2011. Nuansa-nuansa Psikologi Islam.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Nashori,
Fuad, dkk. 2005. Isu-isu Kontemporer
Psikologi Islami: Teori, Riset, dan Aplikasi. Yogyakarta: Penerbit Insania
Cita.
Sham,
Fariza. (2016). Elemen Psikologi Islam
dalam Silabus Psikologi Modern: Satu Alternatif. Jurnal GJAT, 6 (1). 75-85.
Zaharuddin.
(2013). Telaah Kritis terhadap Pemikiran
Psikologi Islam di Indonesia. Jurnal
Intizar, 19 (1). 163-187.
[1]
Zaharudin, "Telaah Kritis terhadap
Pemikiran Psikologi Islam di Indonesia”, Intizar, Vol. 19. No. 1, 2013,
hlm. 167.
[2]
Lihat Hambal, A, Psikologi Islam,
Bandung: Pustaka Setia, 2015, hlm. 1.
[3] Ibid, hlm. 2.
[4] Ibid, hlm. 3.
[5] Ibid, hlm. 4.
[6] Ibid, hlm. 4.
[7]
Mudzakir, A. M, Nuansa-nuansa Psikologi
Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011 hlm. 7.
[8] Ibid, hlm. 7.
[9] Sham,
Fariza, “Elemen Psikologi Islam dalam
Silabus Psikologi Modern: Satu Alternatif”, GJAT, Vol. 6, No.1, 2016, hlm. 75-85.
[10] Zaharuddin,“Telaah Kritis terhadap Pemikiran Psikologi
Islam di Indonesia”, Intizar, Vol.
19, No. 1, 2013, hlm. 167.
[11]
Nashori, Fuad, dkk, Isu-isu Kontemporer
Psikologi Islami: Teori, Riset, dan Aplikasi , Yogyakarta: Insania Citra,
2005, hlm. 117.
[12]
Ramayulis, Pengantar Psikologi Agama,
Jakarta Pusat: Kalam Mulia, 2002, hlm. 5.
[13]
Mujib, Abdul, “Pengembangan Psikologi Islam
Melalui Pendekatan Studi Islam”, Psikologi Islam, Vol. 1, No. 1, 2005, hlm.
19.
Comments
Post a Comment