RESENSI NOVEL KARTINI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER


  RESENSI NOVEL KARTINI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
Judul Buku: Panggil Aku Kartini Saja
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979-97322-11-6

Judul dari panggil aku kartini saja itu dari tulisan tangan Kartini dalam menulis esainya yang diterbitkan di media massa. Tulisan itu tak hanya diketahui oleh pribumi, namun juga menggemparkan negeri penjajah lain seperti di Hindia, Eropa dll. Dalam buku panggil aku kartini saja mengisahkan sosok wanita keturunan ningrat yang kerap dipanggil sebagai Raden Ayu Kartini.  Tapi kartini malah menolak  panggilan gelar dari namanya. Ia ingin masyarakat memanggilnya dengan panggilan Kartini saja, bagi Kartini derajat yang dimiliki sama seperti perempuan pribumi lain tanpa gelar ataupun status sosial.
Di dalam buku ini hasil dari pemikiran Kartini sendiri sebagai pribumi terhadap tekanan masyarakat ketika penjajahan Belanda, dan penindasan feodalistik yang dirasakannnya. Padahal Kartini adalah keturunan anak bupati dan Priyayi. Karena saat itu tradisi feodalistik sudah ada. Tapi Kartini menolak tradisi feodalisme dalam bentuk apa pun meski ia hidup di dalam keluarga feodal. Kartini ingin mensejahterakan masyarakat pribumi dari tekanan Belanda yang membuat masyarakat pribumi sengsara.
Kartini hidup di lingkungan yang melarang keras anak perempuan bangsawan untuk keluar rumah. Namun Kartini diizinkan mengenyam pendidikan di Sekolah Rendah Belanda. Saat Kartini masuk sekolah pertama kali ia sudah diperlihatkan sebuah  diskriminasi. Anak-Anak yang masuk ke kelas dipanggil sesuai dengan warna kulit dan kedudukan orang tua. Pada waktu  sekolah tidak diciptakan tujuan pendidikan, namun sebagai sekolah para eksklusif  kaum penjajah dan kaum feudal dalam berbagi kekuasaan, dan pendidikan.  Sementara pribumi ditelantarkan dalam kebodohan. Agar bangsa pribumi terus dalam kebodohan dengan begitu mereka tidak akan bisa melawan penjajah.
Kartini dalam perjuangannya membela kaum perempuan yang selama ini dipandang sebagai sosok yang lemah dan rendah. Namun, berkat Kartini, Ia mampu mengubah derajat perempuan naik dan membuktikan bahwa perempuan mampu berpikir layaknya seorang laki-laki. Sehingga membuka mata dunia Internasional yang selama ini terdogma Patriarki. Ide-ide tersebut mampu menjadi inspirator bagi kaum pribumi. Salah satu ide Kartini mempromosikan hasil kerajinan anak pribumi, ukiran khas Jepara. Ukiran mampu menembus pasar Eropa, dan hasil kerajinan ukiran dari Jepara banyak diburu orang Eropa. Perjuangan Kartini tidak hanya berhenti di situ saja melainkan  segala sesuatu yang menimpa kaum pribumi Ia berusaha catat melalui kertas dan dikirimkan ke media, sehingga banyak karya Kartini dimuat dan dibaca. Dari situlah Kartini ingin membuka mata Internasional, bahwa anak-anak Pribumi mampu berbuat dan menghasilkan sesuatu meski kehidupan yang dialami dalam penindasan. akhirnya Negara Eropa simpati terhadap masyarakat pribumi dan mendukung anti diskriminasi Katini atas penjajahan Belanda.

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy

Menemukan Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Drama Cipoa Karya Putu Wijaya

KESALAHAN EJAAN DAN PENULISAN BAHASA INDONESIA Se-Solo Raya