RESENSI NOVEL ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA A. A. NAVIS
1.
RESENSI
NOVEL ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA A. A. NAVIS
Judul
Buku : Robohnya Surau Kami
Penulis : A. A. Navis
Tahun : 2010
ISBN : 978-979-22-6129-5
Novel
ini menceritakan keluarga yang tidak bisa menyeimbangkan kehidupannya. Pada zaman dahulu, masjid yang digunakan untuk
beribadah dinamakan surau. Orang-orang pada zaman dulu juga sangat rajin
beribadah. Mereka beribadah semata-mata untuk mendapatkan ridha dari Allah.
Tapi ada juga yang beribadah hingga lupa dengan kewajibannya yang lain, seperti
membantu orang yang lemah. Mereka selalu berlomba-lomba untuk beribadah dan
sangat bekerja keras. Tapi hasil yang didapatkan hanya digunakan untuk
mencukupi kebutuhan mereka sendiri, tidak digunakan untuk membantu oranglain
yang lebih membutuhkan.
Bermula dari tokoh “aku” yang tidak disebutkan
namanya. Sesekali ia mengunjungi seorang kakek penjaga surau. Kakek ini disebut
girin. Kakek adalah orang yang sangat rajin beribadah dan taat beragama. Ia
tinggal di sebuah surau yang sudah rusak dengan izin dari masyarakat setempat.
Ia hidup dengan pemberian dari masyarakat setempat. Pada suatu hari, tokoh
“aku” heran saat melihat kakek yang duduk termenung sendirian. Ia bertanya
kepada kakek apa yang membuat hati kakek gundah. Akhirnya setelah bujuk rayu
yang ia lakukan, kakek mau menceritakan apa yang tejadi.
Dari cerita kakek, ia
tahu bahwa yang menyebabkan hati kakek gundah adalah cerita dari Ajo Sidi. Ajo
Sidi bercerita bahwa ada seseorang yang bernama Haji Saleh. Ia adalah orang
yang sangat rajin beribadah. Setiap waktu yang ia miliki hanya digunakan untuk
beribadah. Haji itu memang sangat rajin beribadah, tapi ia tidak mendapat
syafaat dari Allah. Penyebabnya adalah haji itu hanya memikirkan kepentingan
dirinya sendiri. Ia bekerja dengan giat, tapi hasilnya ia jual kepada pedagang
asing. Padahal masyarakat yang disekitarnya masih banyak yang kekurangan.
Allah memang
memerintahkan hamba-Nya untuk selalu menyembah kepada-Nya. Tapi tentunya kita
harus memiliki rasa saling peduli dengan sesamanya. Kita harus selalu membantu
orang yang membutuhkan dan tidak boleh mendzalimi orang lain. Begitulah cerita
dari Ajo Sidi. Kakek merasa bahwa cerita itu ditujukan untuknya. Kakek sangat
terpukul. Ia tidak bisa berpikir secara jernih. Keesokan harinya, kakek
ditemukan tidak bernyawa di dekat suraunya oleh masyarakat setempat. Mereka
tidak mengira bahwa orang yang taat beribadah seperti kakek akan mengakhiri
hidupnya dengan bunuh diri. Sungguh malang nasib kakek tersebut.
Novel ini layak dibaca
oleh semua orang karena novel ini memiliki alur cerita yang menarik dan banyak
amanat yang dapat diperoleh dari novel ini. Salah satunya adalah
mengajarkan kepada kita bahwa kita harus selalu taat beribadah kepada
Allah serta selalu menolong sesamanya yang membutuhkan. Bahasa yang digunakan
dalam novel ini sedikit sulit untuk dipahami karena sebagian masih menggunakan
bahasa lama. Sampul novel ini juga kurang menarik karena kurang membantu para
pembaca berimajinasi mengenai cerita tersebut.
Comments
Post a Comment