BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Berbicara tentang peran dalam pembangunan erat kaitannya dengan segala aspek dan elemen yang ada. Biasanya tertuju pada aspek baik itu individu, sosial, bidang ekonomi, politik dan budaya, perdagangan, transformasi, industri. Baik itu mikro maupun dalam lingkup makro.dan erat kaitannya juga dengan masyarakat sebuah bangsa maupun masyarakat. karena peran dari berbagai macam aspek dan bidang sebuah kontribusi untuk ditransformasikan kepada seseorang guna untuk kemaslahatan bersama.
      Tapi disini yang ingin dibicarakan tentang Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Bangsa. Didalam kehidupan seseorang mengalami segala macam proses yang begitu panjang dimana saat ia pertama kali menatap dunia yang keluar dari rahim seorang Ibu. Lalu ia mulai belajar berbicara meskipun masih kesulitan dalam berbicara setelah ia bisa berbicara. Kemudian iapun mulai merangkak sampai ia bisa berjalan dan bisa lari kesana kemari. Setelah itu ia belajar membaca dan menulis sampai ia mengerti sebuah perjalanan hidupnya begitu panjang proses yang ditempuh namun membawa arti yang berbeda-beda.
dunia pendidikan yang mengemuka akhir-akhir ini  pendidikan belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, tidak sedikit yang menyebut bahwa pendidikan telah gagal karena banyak lulusan sekolah atau sarjana yang cerdas tetapi bermental dan bermoral lemah. Maraknya tindak kekerasan antar-pelajar, antar-mahasiswa, pelajar dengan mahasiswa maupun pelajar-mahasiswa dengan masyarakat yang sering terjadi.
lunturnya semangat kebangsaan. Semangat ke-Bhineka Tunggal Ika-an bangsa Indonesia akhir-akhir ini berada di titik akhir. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultur karena Puluhan suku bangsa, etnis, ras, dan beragamnya agama masyarakat Indonesia dengan berbagai latar belakangnya membawa konsekuensi tersendiri dalam berbangsa dan bermasyarakat.
Multikulturalisme dan karakter bangsa tampaknya berkait erat. Merosotnya karakter bangsa berdampak pada menipisnya semangat kebersamaan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultural. Terkikisnya semangat saling menghargai antar-suku bangsa, etnis, ras, dan antar-pemeluk agama saat ini adalah salah satu indikator bahwa pembentukan manusia Indonesia yang multikultur berkarakter belum berhasil.
Prof. Dr. Farida Hanum, M. Si. dalam makalahnya yang berjudul Pendidikan Multikultural Sebagai Sarana Pembentuk Karakter Bangsa, mengutip pendapat Hasyim Djalal, menyatakan bahwa ada tiga tiang utama jati diri bangsa Indonesia yang tidak boleh digerogoti dengan cara apapun. Pertama, Indonesia sebagai suatu kebangsaan. Hal ini telah dicapai sejak Sumpah Pemuda tahun 1928, yang meneguhkan Indonesia adalah satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Kedua, Indonesia adalah suatu negara yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, ini berarti  manusia-manusia Indonesia telah menyatakan diri hidup dalam satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketiga, Indonesia adalah satu kewilayahan, dalam arti bahwa orang-orang Indonesia telah menjadi satu bangsa yang tinggal di suatu kesatuan wilayah yang meliputi darat, laut, udara, dan kekayaan alam (Hanum, 2009).
Konsep ini haruslah menjadi dasar pijak pendidikan nasional. Pendidikan nasional dikembangkan dengan prinsip menghargai dan memberi ruang perbedaan-perbedaan di masing-masing daerah dan lembaga pendidikan. Meski demikian, segala perbedaan budaya lembaga pendidikan haruslah diikat oleh pembentukan pola pikir, tindakan, dan karakter yang mencerminkan manusia Indonesia.
            Pendidikan adalah proses pembudayaan anak untuk dibentuk sesuai potensi belajar yang dimilikinya dengan tujuan agar menjadi anggota penuh dari masyarakat yang dapat menghayati dan mengamalkan potensinya, baik secara individu maupun bersama-sama dengan anggota lainnya. Dalam arti praktis, pendidikan merupakan proses penyampaian kebudayaan atau proses pembudayaan yang bertujuan menjadikan anak memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, serta pola-pola perilaku tertentu. Mengacu pada pemahaman arti luas dan arti praktis, pendidikan itu bertujuan untuk mentransformasikan budaya, baik pendidikan di rumah tangga (keluarga), di masyarakat, maupun di sekolah, yang menunjukkan apa yang baik di masyarakat (Sagala, 2006:227).
Paparan di atas bahwa betapa pentingnya pendidikan dalam membentuk karakter manusia Indonesia yang multikultural. Oleh karena itu, perlu adanya upaya pengembangan model pendidikan karakter yang berbasis multikultural.  Pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural sangat urgen dilakukan mengingat akhir-akhir ini ditengarai terjadi pengikisan karakter manusia Indonesia yang memiliki kultur yang beragam.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah pendidikan multikultural?
2.      Apakah pengertian pendidikan multicultural?
3.      Bagaimana paradigma pendidikan multicultural?
4.      Bagaimana pendekatan pendidikan multicultural?
5.      Bagaimana pendidikan berbasis multicultural?
6.      Bagaimana wacana pendidikan multicultural di  Indonesia?
C.     Tujuan Penelitian
Untuk mendeskripsikan pengembangan pendidikan karakter bernbasis multikultural seiring dengan perkembangan zaman  dan peran dosen dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis multikultural.
Tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah untuk menanamkan sikap simpatik, respek, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda-beda.
D.    Kerangka Teori
1.      Suku Bangsa.
2.      Masyarakat.
3.      Masyarakat multikultural.
4.      Interaksi sosial.
5.      Kebudayaan.
6.      Integrasi social.
7.      Kerangka berfikir.
E.     Telaah Pustaka
Jika kita kita mengetahui maka dunia pendidikan Indonesia tidak saja harus berlandaskan pada kebudayaan tetapi juga harus berhadapan dengan tugas harus mengembangkan berbagai budaya yang ada di tnah air dan menjadi bagian dari kehidupan peserta didik. Dalam realita sosial-budaya yang demikian maka pendidikan multikultural merupakan suatu kenyataan yang tak dapat dihindari. Hasan (2006) mengungkapkan ada lima alasan mengapa pendidikan multikultural diperlukan yaitu :
1.      Perubahan kehidupan manusia Indonesia yang disebabkan kemajuan ekonomi memperbesar jurang sosial antara kelompok aras dan kelompok bawah.
2.      Adanya perpindahan dan mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Perpindahan dan mobilitas yang tinggi menyebabkan adanya pertmemuan yang sering dan intens antara kelompok dengan budaya yang berbeda.
3.      Semakin terbukanya daerah-daerah pedesaan.
4.      Berbagai konflik sosial budaya yang muncul akhir-akhir ini memperlihatkan adanya kesalahfahaman budaya yang sangat besar antara kelompok yang bertikai. Dampak dari pertikaian itu menyakitkan kedua bekah oihak dan memerlukan upaya pendidikan untuk memperbaikinya.
5.      Menghapus mitos dan tafsiran sejarah yang tidak menguntungkan bagi persatuan bangsa. Berbagai peristiwa mitos sejarah sangat merugikan hubungan antara kelompok budaya yang ada di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Pendidikan Multicultural.

Pendidikan multicultural sebagai konsep/ pemikiran dari ruang kosong. Melalui politik, sosial, ekonomi dan intelektual yang mendorong kemunculannya. Banyak sejarah pendidikan multicultural yang merujuk pada gerakan sosial seperti Amerika yang keturunan Afrika dengan bentuk warna kulit yang hitam.
Diantara lembaga yang secara khusus disorot karena bermusuhan dengan persamaan ide dan ras pada akhir 1960 dan akhir 1970-an suara-suara yang menuntut agar konsisten tua. Mereka menuntut adanya persamaan kesempatan dibidang pendidikan dan pekerjaan.
Tahun 1960 pendidikan multicultural yang didirikan oleh para peniliti dan aktivis. James bank merupakan salah satu seorang pioneer dari pendidikan multicultural. Dia mengartikan konsep pendidikan multicultural menjdi persamaan pendidikan. Kemudian tahun 1980 muncul Sleeter, Geneva Gay dan Sonia Netto yang memberikan wawasan lebih luas tentang pendidikan multicultural. Memperdalam ide persamaan yang menghubungkan dengan transformasi dan perubahan sosial.
2.2. Pengertian Pendidikan Multikultural
Menurut James. A. Bank(2015:196) pendidikan multikultural adalah konsep, ide atau falsafah sebagai satu rangkaian kepercayaan dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis dalam membentuk gaya hidup,  pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan dari individu, kelompok maupun negara.
Secara umum pendidikan multikultural adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi dari diri sendiri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan Negara.
Menurut Nieto (1992:190) pendidikan multibudaya adalah pendidikan yang bersifat memperhatikan ketrampilan dan pengetahuan dasar bagi semua warga; terutama bagi mahasiswa yang menembus seluruh sistem pendidikan dengan cara mengembangkan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang tertuju pada keadilan sosial yang merupakan proses dimana pengajar dan mahasiswa bersama-sama mempelajari pentingnya budaya akademik dan penerapan pendidikan.
Menurut Parsudi Suparlan, pendidikan multikulturalis adalah pendidikan yang mampu menjadi pengikat perbedaan antara kesukubangsaan maupun suku bangsa.
Menurut Gibson (1984:197) pendidikan multikultural adalah suatu proses pendidikan yang membantu individu mengembangkan cara menerima, mengevaluasi, dan masuk dalam sistem budaya yang berbeda.
Dapat ditarik kesimpulan pendidikan multikultural adalah konsep dan ide terencana yang brrtujuan untuk mengembangkan kepribadian dari diri sendiri yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan Negara dimana pengajar dan mahasiswa bersama-sama mempelajari penerapan pendidikan yang terikat perbedaan kesukubangsaan maupun suku bangsa dalam perbedaan sistem budaya.
2.3. Paradigma Pendidikan Multikultural
1. Kemajemukan sebagai Ciri Khas Bangsa Indonesia
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang masyarakatnya sangat majemuk atau pluralis. Kemajemukan merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang memiliki dua perspektif, yaitu perspektif horizontal dan perspektif vertikal. Dalam perspektif horizontal, kemajemukan bangsa dapat dilihat dari perbedaan agama, etnis, bahasa daerah, geografis, dan budaya. Adapun dalam perspektif vertikal, kemajemukan bangsa Indonesia dapat dilihat dari perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi, dan tingkat sosial.
Fenomena kemajemukan memberikan dampak positif, yaitu memiliki kekayaan budaya yang beragam, tetapi disisi lain dapat menimbulkan dampak negatif karena kadang-kadang keberagaman dapat memicu adanya konflik antarkelompok masyarakat yang dapat menimbulkan instabilitas baik secara keamanan, sosial, politik, maupun ekonomi.
Dalam menghadapi pluranisme budaya, diperlukan paradigma baru yang lebih toleran untuk mencegah dan memecahkan masalah benturan budaya. Hal ini penting untuk mengarahkan mahasiswa dalam menyikapi realitas masyarakat beragam sehingga memiliki sikap apresiatif terhadap keragaman perbedaan. Maraknya kerusuhan dan konflik yang berlatar belakang suku, adat, ras, dan agama menunjukkan bahwa pendidikan telah menciptakan kesadaran dan pentingnya multikulturalisme.
2.   Bangunan Paradigma Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultural adalah jantung untuk menciptakan kesetaraan pendidikan bagi seluruh warga masyarakat dan bukan sekadar perubahan metode pembelajaran dengan cara memberikan arah transformasi pendidikan dalam upaya mempersempit kesenjangan pendidikan salah arah yang menciptakan ketimpangan yang semakin membesar yang bertujuan membangun jembatan antara kurikulum dan karakter guru, pedagogi, iklim kelas, kultur kampus untuk membangun visi sekolah yang menjunjung kesetaraan.

2.4. Pendekatan pendidikan multikultural
1. Bentuk Pengembangan dan Pendekatan
Setiap negara pasti memiliki permasalahan, namun permasalahan yang dihadapi setiap negara berbeda-beda. Banks mengemukakan empat pendekatan yang mengintegrasikan pendidikan multikultural kedalam pembelajaran di kampus antara lain:
a.       Pendekatan Kontribusi
Pendekatan yang digunakan dalam fase pertama. Cirinya dengan memasukkan pahlawan dari suku bangsa/ etnis dan budaya ke dalam pelajaran yang sesuai.
b.      Pendekatan Aditif
Pada tahap ini dilakukan penambahan materi, konsep, tema, terhadap kurikulum tanpa mengubah struktur, tujuan, dan karakter dasar.
c.       Pendekatan Transformasi
tahap dengan  mengubah asumsi dasar kurikulum dan menumbuhkan kompetensi dasar dengan cara melihat konsep, isu, tema dan problem dari beberapa sudut pandang etnis. Sehingga rasa saling menghargai, kebersamaan dapat dirasakan melalui pembelajaran.
d.      Pendekatan Aksi Sosial
Pendekatan yang mencakup semua elemen dari pendekatan transformasi, tetapi menambah komponen dengan konsep, isu, atau masalah yang dipelajari dalam kampus. Tujuan utama pendekatan ini adalah mendidik siswa melakukan kritik sosial dan mengajarkan ketrampilan membuat keputusan untuk dan membantu memperoleh pendidikan politis, kampus membantu mahasiswa menjadi kritikus sosial yang relektif.

2.5.  Pendidikan Berbasis Multikultural
1.  Revitalisasi Kurikulum
Seiring dengan pelakisanaan otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, kedudukan kurikulum menjadi sangat strategis dan penting. Pada dasarnya pembahasan pendidikan multikultural difokuskan pada hal-hal berikut:
a.       Pendidikan multikultural sebagai studi tentang etnisitas yaitu penelaahan terhadap berbagai kelompok etnis atau budaya.
b.      Pendidikan multikultural mempelajari dampak dari ketidak adilan. Hal ini menggunakan pendekatan historis dan analisis hubungan sosiologi antar kelompok.
c.       Pendidikan multikultural sebagai proses pendekatan implikasi dari pendidikan multikultural.ketiga ini mencakup hasil serta proses intruksionalnya.
d.      Pendidikan multikultural memerlukan kurikulum yang bersifat akomodatif dan kompresensif.
Upaya revitalisasi kurikulum dalam mengakomodasi multikultural hendaknya mengidentifikasi hal-hal berikut.
a.       Faktor sosial budaya yang kemungkinan dapat menjadikan perbedaan individual mahasiswa sebagai faktor-faktor  konstruktif.
b.      Mengidentifikasi nilai-nilai yang sepatutnya diajarkan secara eksplisit ataupun implisit.dengan harapan agar mahasiswa dengan latar budaya yang berbeda dapat memperkaya kultural yang dimilikinya dari proses interaksi dengan mahasiswa lain.
Pada akhirnya ragam kultural akan memberikan peluang bagi keutuhan dalam membentuk budaya bangsa. Dalam hal ini membina kebinekaan budaya berarti memahami dan menghargai perbedaan yang ada di masyarakat bangsa ini.
2.               Penerapan empat pilar proses pembelajaran
Penerapan empat pilar proses pembelajaran pada setiap jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sangat diperlukan adanya fungsi dan tercapainya tujuan pendidikan nasional dan kaitannya dengan pendidikan multikultural.
a.       Penerapan ” learning to know ”
b.      Penerapan ” learning to Do”
c.       Penerapan ” learning to Be”
d.      Penerapan ” learning to live Together”
3.      Integrasi empat pilar dengan pendidikan yang berbasis multikultural.
Keempat pilar tersebut secara potensial dapat diintegrasikan dengan pendidikan dengan berbasis multikultural. Dengan adanya budaya damai akan terwujud berdasarkan multikultural bangsa indonesia.
Dalam hal ini keempat pilar prores pembelajaran diperuntukkan bagi terlaksananya fungsi dan pendidikan nasional, berbagai strategi perlu dikembangkan, antara lain:
a.       Pengembangan Kurikulum.
b.      Peningkatan Kualitas Profesional Tenaga Pendidikan.
c.       Pengembangan Sistem Pengelolaan Pendidikan.
d.      Mengembangkan Sistem Pendidikan Tinggi.
e.       Menyamakan persepsi masyarakat.
2.6. Wacana Pendidikan Multikultural di Indonesia.
Kemunculannya sebagai sebuah disiplin ilmu tahun 1960-an dan 1980-an, pendidikan berbasis multikulturalisme atau multicultural based education, disingkat ( MBE ), didefinisikan dalam berbagai cara dari perspektif.
MBE juga berkenaan dengan perubahan pendidikan yang signifikan dan menggambarkan realitas budaya, politik, sosial dan ekonomi dalam secara luas dan sentematis mempengaruhi segala sesuatu yang ada di kampus dan di luar ruangan.
Namun MBE juga menegaskan dan memperluas praktik yang patut di contoh dan berupaya memperbaiki berbagai kesempatan pendidikan optimal yang tertolak. MBE juga membahas seputar penciptaan lembaga pendidikan yang menyediakan lingkungan pembelajaran yang dinamis, yang mencerminkan persamaan, kesetaraan dan keunggulan.
Menurut Azyumardi Asra (2001) berakhirnya sentralisme kekuasaan pada masa Orde Baru memaksakan ” monokulturalisme ” yang hampir sama memunculkan reaksi balik, yang mengandung implikasi negatif bagi rekonstruksi kebudayaan Indonesia yang multikultural.
Seiring dengan proses otonomisasi dan desentralisasi kekuasaan pemerintah, terjadi pula peningkatan fenomenal atau gejala provinsialisme yang hampir tumpang tindih ” etnitas”. Jika tidak terkendali, kecenderungan tidak hanya menimbulkan disintegrasi sosio kultural yang parah, tetapi disintegrasi politik.




na untuk mewujudkan dan mengembangkanpotensi dirintuk memilik                                 
. BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan multikultural adalah suatu pendekatan untuk melakukan transformasi pendidikan yang secara menyeluruh sehingga tidak terdapat kekurangan, kegagalan dan dalam proses pendidikan.
Pendidikan karakter bertujuan membentuk dan membangun pola pikir, sikap, dan perilaku mahasiswa agar menjadi pribadi yang positif, berakhlak karimah, berjiwa luhur, dan bertanggung jawab. pendidikan karakter adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang positif dan berakhlak karimah sesuai standar kompetensi lulusan (SKL) sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun Kondisi Indonesia yang multikultural menuntut untuk mampu mendobrak enkapsulasi etnis dan penyekit soaial budaya. Selain itu kampus diharapkan dapat mengembangkan mahasiswanya agar menjadi makhluk yang melihat etnik dan melihat  kebinekaan budaya. Kebinekaan budaya yang ada dilahirkan oleh berbagai aspek kehidupan, seperti agama, suku, keturunan, kondisi sosial ekonomi, dan tahapan kekuasaan.
Pengimplementasian pendidikan karakter berbasis multikultural di kampus memerlukan strategi yang tepat, efektif, dan partisipatif melibatkan seluruh komponen pendidikan. Ketepatan pemilihan strategi akan memberikan hasil yang optimal dalam membentuk mahasiswa yang berkarakter. Dengan upaya pengembangan model-model pendidikan karakter sebagai sebuah strategi pengimplementasian pendidikan karakter berbasis multikultural sangat penting dilakukan.
Pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural berprinsip integratif, kompak, dan konsisten. Integratif berarti mengintegrasikan pendidikan karakter berbasis multikultural ke dalam seluruh program dan kegiatan kampus. Kompak berarti seluruh komponen pendidikan memiliki sikap dan pandangan yang sama dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis multikultural. Konsisten artinya seluruh komponen pendidikan memiliki sikap dan pandangan yang konsisten dalam menerapkan pendidikan karakter berbasis multikultural.
Dosen memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural melalui pengajaran yang  responsive  kultural.

B. Saran
Adapun saran yang saya berikan dalam konsep pendidikan multikultural tidak hanya dipelajari dikalangan mahasiswa saja. Akan tetapi semua kalangan masyarakat wajib mempelajari dan memahami konsep pendidikan multicultural yang ada. Sehingga tercapai tujuan mahasiswa dan mampu memupuk semangat nasional dan memperkuat identitas. Maka dari itu dosen bisa mengajak mahasiswa untuk berperan dalam merancang kebijakan publik, yang mencerminkan peranan kehidupan demokrasi. Dengan cara menghargai perbedaan atau keberagaman dalam bidang persamaan dan kesatuan.
     








Daftar Pustaka
                                                                                    
Suryana, Yaya, dkk.  Pendidikan multicultural l(suatu upaya penguatan jati diri bangsa), cet 1 Bandung: Pustaka Setia, 2015.
Bank, James A.1989. Multikultural Education: Issue and Perspectives. Boston-London: Allyn and Bacon Press
Hanum, Farida. 2005. Fenomena Pendidikan Multikultural pada Mahasiswa Aktivis UNY. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Lemlit UNY.


Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy

Menemukan Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Drama Cipoa Karya Putu Wijaya

KESALAHAN EJAAN DAN PENULISAN BAHASA INDONESIA Se-Solo Raya