Mahabbah Seorang Hamba Kepada Tuhan
Dalam Tasawuf
Faridhatun
Nikmah (163151033/4A)
Kebanyakan
manusia salah mengartikan kata mahabbah. Mereka mengartikan mahabbah sebagai
perasaan cinta yang mendalam kepada manusia, bahkan cinta yang diberikan kepada
orang yang dicintainya melebihi cinta yang diberikan kepada Allah. Hal tersebut
menjadikan rasa cinta yang diberikan kepada Allah berkurang. Kalau kita tahu
bahwa cinta yang lebih utama adalah cinta kepada Allah, kedua cinta kepada
orang tua, dan ketiga cinta kepada sesama manusia. Tujuan mencintai Allah
adalah agar kita selalu mensyukuri nikmat dan rahmatnya. Tanpa Allah kita tidak
bisa hidup, karena Allah menciptakan manusia. Dalam artikel ini penulis akan
membahas tentang pengertian, tujuan dan kedudukan mahabbah, kedua alat untuk
mencapai mahabbah, tokoh yang mengembangkan mahabbah, tokoh yang mengembangkan
mahabbah, dan mahabbah dalam al-Qur’an dan Hadis.
Mahabbah
menurut Yunus (Nata, 2010: 207) kata mahabbah berasal dari kata ahabba,
yuhibbu, mahabbatan., secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Lawan
kata dari mahabbah yang berarti cinta adalah al-baghd artinya cinta. Selain itu al-mahabbatan berarti kecenderungan kepada sesuatu yang bersifat material maupun
spiritual. Lebih lanjut Yunus (Nata, 2012)
menjelaskan mahabbah digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau
aliran dalam tasawuf. Dalam hubungan mahabbah objeknya lebih tertuju pada
Tuhan. Dari berbagai pendapat di atas, tampaknya ada yang cocok dengan arti
mahabbah yang dikehendaki dalam tasawuf yaitu mahabbah yang artinya kecintaan
yang mendalam secara ruhiah pada Allah.
Al-mahabbah
berarti adanya kecenderungan sesuatu kepada seseorang dengan tujuan untuk
memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual, seperti cintanya
seseorang yang sedang kasmaran pada sesuatu yang dicintainya, misalnya cinta
orang tua kepada anaknya, sahabat kepada
sahabatnya, dan bangsa kepada tanah airnya, atau seorang suami kepada istrinya.
Mahabbah merupakan suatu keadaan jiwa
sifatnya mulia yang berbentuk kemutlakan Allah SWT oleh hamba, dengan
mengungkapkan rasa cinta mendalamnya kepada Allah.
Mahabbah
Allah yang diberikan kepada hamba yang dicintainya dapat berbentuk iradah dan rahmat Allah, yang diberikan
kepada hamba-Nya dalam bentuk pahala dan nikmat yang melimpah. Mahabbah berbeda dengan al-raghdad, mahabbah adalah suatu cinta yang disertai dengan
harapan dan bersifat duniawi, sedangkan al-raghdad
adalah cinta yang disertai dengan perasaan rakus, dan keinginan yang kuat untuk
bisa mendapatkan meskipun harus mengorbankan segalanya.
Menurut
(Rajab, 2008) Mahabbah dan ma’rifah
adalah dua sifat dalam tingkat tasawuf yang menduduki posisi yang tinggi di
antara maqam dan ahwal dalam sufisme. Dengan mahabbah dan ma’rifah seorang sufi
mempunyai ikatan yang kuat dengan Tuhan, melalui ibadah dan muatan cinta kepada
Ilahi, sehingga mencapai tahap ma’rifah (Tuhan). Hubb Ilahi (cinta kepada
Tuhan) mendorong seorang sufi untuk beramal dan berkorban untuk meraih cinta,
dan dia berada dalam keasyikan bercinta dengan Tuhan. Ma’rifah pada prinsipnya
adalah intuisi bawah kesadaran manusia yang diperoleh daripada ketajaman mata
hati setelah menjalani masa yang panjang dengan latihan- latihan rohaniah
sehingga Allah SWT melimpahkan anugerah ma’rifah-Nya kepada orang yang berusaha
secara mak- simal untuk mendekati Tuhannya.
Menurut
Nasution (Nata, 2010)
membagi mahabbah menjadi tiga macam, yaitu pertama mahabbah orang biasa, kedua mahabbah orang shiddiq, dan ketiga
mahabbah orang arif. Mahabbah orang biasa bentuknya ingin selalu mengingat
Allah dengan zikir agar senantiasa dekat dengan-Nya, selalu menyebut nama-nama
Allah agar memperoleh kesenangan dalam dirinya sehingga ia merasa berdialog
dengan Tuhan dengan cara memuji Tuhan. Mahabbah orang shiddiq adalah suatu
cinta kepada Tuhan dengan melihat kekuasaan dan kebesaran-Nya. Sehingga selalu
bersyukur dengan kebesaran Tuhan, dan di dalam hati ia selalu rindu dengan
Tuhan, sedangkan cinta orang yang arif adalah suatu cinta seseorang hamba yang
mendalam kepada Tuhan. Dalam cinta maksud ini bukan lagi cinta, tetapi diri
yang dicintai sehingga sifat diri yang dicintai masuk dalam diri yang
mencintai.
Dari
ketiga tingkatan mahabbah di atas menunjukkan adanya suatu proses mencintai,
yaitu mulai dari mengenal sifat Allah dengan menyebutnya melalui zikir.
Dilanjutkan dengan leburnya diri (fana) pada sifat-sifat Tuhan, dan akhirnya
keduanya menyatu atau bisa kita sebut dengan kekal di dalam sifat Allah adalah baqa. Dari ketiga tingkatan tersebut,
tampaknya cinta yang terakhirlah yang akan dituju oleh mahabbah. Dalam uraian
di atas kita dapat memperoleh pemahaman bahwa mahabbah adalah suatu keadaan
jiwa yang mencintai Tuhan dengan sepenuh hati, tujuannya adalah untuk
memperoleh kesenangan batiniah, yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata ,
tetapi hanya dirasakan oleh jiwa.
Sementara
itu (Nata, 2010)
berpendapat bahwa mahabbah adalah suatu istilah yang hampir berdampingan dengan
ma’rifah, baik dalam kedudukan maupun pengertian. Ma’rifah adalah tingkatan
pengetahuan kepada Tuhan melalui mata hati, maka mahabbah adalah perasaan
kedekatan dengan Tuhan melalui cinta. Seluruh jiwa terisi oleh jiwa kasih dan
cinta kepada Allah. Rasa cinta itu tumbuh karena pengetahuan dan pengenalan
kepada Tuhan sudah sangat jelas dan mendalam. kedudukan mahabbah lebih tinggi
daripada ma’rifah.
Dapatkah
manusia mencapai mahabbah? Para ahli tasawuf menjawab dengan menggunakan
pendekatan psikologi, yaitu pendekatan yang melihat adanya potensi rohaniah
yang ada dalam diri manusia. Menurut Nasution (Nata, 2010)
mengatakan bahwa diri manusia ada tiga alat yang digunakan untuk menghubungkan
dengan Tuhan. Pertama al-qalb sebagai
tempat untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, kedua roh sebagai alat untuk mencitai Tuhan. Ketiga sir adalah alat untuk melihat Tuhan. Dapat diketahui bahwa alat
untuk mencintai Tuhan adalah roh. Karena
roh sudah dibersihkan oleh dosa dan
maksiat, dan dikosongkan dari sesegala sesuatu, melainkan hanya diisi oleh
cinta kepada Allah.
Tokoh
yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Rabi’ah al-adawiyah. Ia adalah
seorang zahid perempuan yang amat besar yang berasal dari Bashrah Irak, ia
hidup di antara tahun 713-801 H dan meninggal pada tahun 185 H/ 796 M. Sebuah
konsep pendekatan diri kepada Tuhan atas dasar kecintaan, bukan karena takut
akan siksa neraka ataupun mengharap surga. Cinta Rabiah merupakan cinta yang
tidak mengharap balasan. Konsep
cinta
murni kepada
Tuhan
yang ditawarkan oleh
Rabi’ah
al-Adawiyah
tanpa dibarengi dengan
pengharapan
apapun setelah yang
dicintainya, inilah
puncak
tasawuf
Rabi’ah. Pantun-pantun
kecintaan Illahi, yang
kemudian
banyak keluar dari
ucapan
shufi
yang lainnya,
telah
dimulai
lebih dahulu
oleh Rabi’ah, diantaranya syair-syairnya
adalah:
“Aku cinta pada-Mu dua
macam cinta; cinta rindu ada pun
cinta, karena
engkau berhak menerima
cintaku.
Adapun cinta karena
engkau……
Hanya engkau
yang aku kenang…….tiada
lain.
Adapun cinta…..karena engkau berhak
menerimanya…
Agar engkau
bukakan bagiku
hijab...supaya aku dapat melihat engkau…….
Pujian atas
kedua
perkara
ini
bukanlah
bagiku…….. Bagimulah
pujian untuk kesemuanya…….
Al-Ghazali berpendapat atas syair tersebut bahwa: Barangkali yang
dimaksud dengan
cinta
kerinduan ialah cinta akan
Allah, karena
ikhsan
dan
ni’matnya
di
atas dirinya. “Karena Allah telah menganugerahi hidup,
sehingga
ia dapat menyebut
nama-Nya (Jalal), yang
kian hari
kian terbuka bagi
dirinya, Maka
itulah cinta yang
setinggi-tingginya
(Kamal) dan cinta yang
timbul
kepada Tuhan karena
merenungi keindahannya (Jamal al
Rububiyah).
Itulah yang
pernah disabdakan
Rasulullah
dalam suatu
hadits
Qudsy:
Aku
sediakan bagi
hambaku yang
saleh
barang yang
belum
pernah
melihat
telinga
belum pernah mendengar
dan
belum
pernah terkhayal dalam hati
seorang
manusia pun
juga.. Ungkapan
lain yang
menunjukkan kecintaan
Rabi’ah
terhadap Tuhan begitu amat
mendalam:
Ya… Tuhan, Bintang di langit telah gemerlapan, mata
telah bertiduran…
pintu-pintu
istana telah dikunci dan dengan
yang dicintainya…dan…
inilah aku berada
dihadirat… Mu.
Masuklah kemari…
Saksikanlah keindahan
wajah
sang pencipta
Aku sedemikian
asyik
Menatap keindahan
sang pencipta
Hingga apa peduliku…
Terhadap
ciptaan-Nya.
Syair di atas sebagian kecil dari
ungkapan Rabi’ah Adawiyah
yang menggambarkan
rasa cinta
kepada Tuhan, yaitu cinta yang
memenuhi seluruh
jiwanya, sehingga ia
menolak lamaran pria
salih untuk menikahinya dengan alasan
bahwa saat ia menikah takut cintanya kepada
Allah berkurang dan beralih ke duniawi, ia beranggapan bahwa cintanya hanya
milik Allah dan siapapun
yang ingin dengannya,
harus
meminta
izin kepada
Tuhan.
Mahabbah
yang paling utama adalah mahabbah kepada Tuhan. Saat mahabbah itu sudah melekat
pada diri kita, maka kita akan merasakan interaksi secara langsung dengan
Tuhan. Jangan sampai cinta kita kepada manusia melebihi cinta kita kepada
Allah. Alat untuk mencapai mahabbah ada tiga, yaitu pertama hati sebagai alat
untuk mengetahui sifat-sifat Allah,
kedua roh sebagai alat untuk mencintai Tuhan, ketiga sir adalah sebagai
alat untuk melihat Tuhan. Alat ntuk mencintai Tuhan, yaitu roh. Roh Tuhan
berasal dari roh manusia sebagai anugerah Tuhan bersatu dan terjadilah
mahabbah. Dan untuk mencapai keadaan tersebut dilakukan dengan amal ibadah yang
dilakukan dengan sungguh-sungguh.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, A. (2010). Akhlak Tasawuf. Jakarta:
Rajawali Press.
Rajab, K.
(2008). Psikoterapi Sufistik Tela’ah atas Dimensi Psikologi dan Kesehatan
Mental dalam Sufisme. Ta’dib, 11(2), 103–115.
Comments
Post a Comment